Laporan Observasi : Penggunaan Perangkat Pembelajaran Matematika di SMP Negeri 12 Padang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Matematika adalah mata pelajaran yang telah dipelajari oleh siswa sejak pendidikan sekolah dasar. Namun bagi sebagian siswa, matematika masih menjadi mata pelajaran yang sulit dan belajar matematika telah menjadi “momok” yang menakutkan. Hal ini tercermin dari hasil belajar yang cenderung rendah.

Meskipun demikian, setiap siswa harus mempelajari matematika karena pada dasarnya matematika merupakan ilmu yang mendasari ilmu lainnya dan sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, kesulitan matematika yang dirasakan oleh siswa tersebut harus cepat diatasi agar setiap siswa mampu mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi dengan sebaik mungkin.

Salah satu komponen penting untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika adalah dengan penggunaan media pembelajaran atau alat peraga. Dengan cara ini diharapkan siswa dapat meningkatkan motivasi belajarnya sehingga dapat mencapai indikator pengajaran. Hal ini berpedoman pada pemanfaatan media pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas proses belajar siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu hasil belajar siswa.
Selain itu, guru memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kualitas siswa dalam belajar matematika. Bukan saja dikarenakan media atau alat peraga yang baik yang dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika, namun guru juga harus pandai memanfaatkan semua media atau alat peraga yang disesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan dengan seefisien mungkin.

Namun kebanyakkan guru menjadikan media dan perangkat pembelajaran sebagai alasan terakhir dalam proses belajar dan mengajar. Padahal seharusnya cara ini merupakan salah satu cara yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap setiap pembelajaran matematika. Oleh sebab itu, penulis perlu mengadakan observasi terhadap penggunaan perangkat pembelajaran pendidikan dasar yang penulis fokuskan di SMP Negeri 12 Padang.

1.2 Permasalahan dan Rumusan Masalah
1.2.1 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang penulis buat, adapun permasalahan yang diangkat adalah bagaimana penggunaan perangkat pembelajaran matematika dalam proses pembelajaran matematika pada pendidikan dasar.
1.2.2 Rumusan Masalah
a. Adakah media dan alat peraga disekolah ini?
b. Bagaimanakah keadaan alat peraga yang ada disekolah saat ini?
c. Bagaimanakah proses atau cara pengadaan dan penyediaan media dan alat peraga disekolah ini? Apakah sekolah yang menyediakan, guru, atau siswa?
d. Apakah media dan alat peraga yang ada disekolah saat ini, sering dipakai dalam proses belajar mengajar?
e. Bagaimanakah respon siswa terhadap penggunaan media dan alat peraga yang dipakai dalam proses belajar mengajar? Apakah dapat menarik minat siswa untuk memahami materi ajar atau tidak?

1.3 Tujuan observasi
1. Mengetahui ketersediaan media dan alat peraga disekolah.
2. Mengetahui bagaimana cara memperoleh media dan alat peraga disekolah.
3. Mengetahui cara penggunaan media dan alat peraga dalam proses pembelajaran.
4. Mengetahui apakah penggunaan media pembelajaran dapat menarik minat siswa sehingga meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang diajarkan.

1.4 Manfaat observasi
1. Dapat mengetahui perangkat dan media pembelajaran matematika apa saja yang ada dan digunakan oleh sekolah.
2. Dapat menambah ilmu dan wawasan kita mengenai perangkat pembelajaran dalam matematika di sekolah.

1.5 Tempat dan Jadwal Observasi
Observasi di lakukan di SMP Negeri 12 Padang dengan rincian sebagai berikut :

Observasi ke- Hari, tanggal Kelas Jam Pelajaran Keterangan
I Senin, 25 Oktober 2010 VII RSBI 3 3-4 Pengamatan
II Rabu, 27 Oktober 2010 VII RSBI 1 1-2 Pengamatan
III Rabu, 27 Oktober 2010 VII RSBI 2 3-4 Pengamatan
IV Rabu, 3 November 2010 VII RSBI 1 1-2 Pengamatan
V Rabu, 3 November 2010 VII RSBI 2 3-4 Pengamatan
VI Sabtu, 13 November 2010 VII RSBI 2 1-2 Wawancara, Penyebaran Angket

1.6 Instrumen Observasi
Adapun instrumen yang dipergunakan pada saat observasi adalah sebagai berikut:
1. Cara pengamatan
a. Pengamatan langsung.
b. Wawancara dengan guru dan siswa
c. Pengumpulan dokumen guru dan sekolah.
2. Alat pengamatan
a. Lembaran hasil pengamatan.
b. Lembaran hasil wawancara.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu proses untuk mengembangkan potensi siswa, baik potensi akademik, potensi kepribadian dan potensi sosial ke arah yang lebih baik menuju kedewasaan. Dalam proses ini diperlukan perangkat pembelajaran yang disusun dan dipilih sesuai dengan kompetensi yang akan di kembangkan.

2.2 Bentuk Perangkat dan Pedoman Penyusunan

2.2.1 Penghitungan Minggu (Pekan) dan Jam Efektif
Perangkat pembelajaran pertama yang dibuat oleh pendidik adalah “Penghitungan Minggu dan Jam Efektif”. Menghitung minggu dan jam efektif sangat diperlukan. Dengan penghitungan ini akan terlihat jumlah minggu dan jam yang tersedia dalam satu semester, yang tidak efektif, dan yang efektif. Langkah-langkah untuk menghitungnya adalah:

1. Membaca dan memahami Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22/2006 tentang Standar Isi.
Beban belajar kegiatan tatap muka keseluruhan untuk setiap satuan pendidikan adalah sebagaimana tertera pada Bab III. Alokasi waktu yang ditetapkan oleh Permen 22/ 2006 tentang Standar Isi adalah seperti berikut ini:
a. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
b. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
c. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
d. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.

2. Membaca kalender ril dan menghitung minggu yang tersedia
Dengan membaca kalender ril akan terlihat minggu yang tersedia untuk setiap bulan. Jika hari yang tersedia pada suatu minggu lebih dari tiga hari, dihitung satu minggu. Jika tiga hari atau kurang dari tiga hari dihitung untuk minggu berikutnya.

3. Pemetaan dan penetapan minggu dan jam efektif dalam bentuk tabel.
Langkah ketiga adalah melakukan pemetaan bulan dan minggu yang tersedia dalam satu semester atau satu tahun. Pemetaan dan penetapan tersebut akan melahirkan “Penghitungan Minggu dan Jam Efektif
No Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
1. Minggu efektif belajar Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
2. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Satu minggu setiap semester
3. Jeda antar semester Maksimum 2 minggu Antara semester I dan II
4. Libur akhir tahun pelajaran Maksimum 3 minggu Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran
.5 Hari libur keagamaan 2-4 minggu Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
6. Hari libur umum/ nasional Maksimum 2 minggu Disesuaikan dengan peraturan pemerintah
7. Hari libur khusus Maksimum 1 minggu Untuk setiap pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing
8. Kegiatan khusus sekolah/madrasah Maksimum 3 minggu Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan khusus oleh sekolah atau madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

2.2.2 Kalender Pendidikan
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran.Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
Adapun cara menetapkan kalender pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.
3. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.
4. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah.

2.2.3 Silabus (Aplikasi Panduan Penyusunan KTSP BSNP)
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menetapkan tujuh langkah pengembangan silabus. Ketujuh langkah itu adalah:
1. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar
2. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran
3. Mengembangkan kegiatan pembelajaran
4. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi
5. Penentuan jenis penilaian
6. Menentukan alokasi waktu
7. Menentukan sumber belajar.
Ketujuh langkah tersebut perlu dicermati oleh pengembang silabus. Pencermatan itu dimaksudkan untuk menetapkan langkah-langkah yang lebih operasional, yang aplikatif, dan dapat memudahkan pengembang silabus dalam melaksanakan tugasnya. Sajian ini mengajak pengembang silabus mengikuti langkah-langkah praktis berikut ini.

1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Langkah pertama yang dilakukan pengembang silabus adalah mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang tercantum pada Standar Isi. Kajian dipusatkan pada:
a. Urutan hierarki konsep disiplin ilmu dan tingkat kesulitan materi.
b. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran
c. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran
d. Keterkaitan antara standar kompetensi dan komepetensi dasar dengan standar kompetensi lulusan mata pelajaran.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar telah diurut sedemikian rupa oleh penyusunnya. Akan tetapi, pengembang silabus dapat mengubah urutan itu dengan mempedomani hierarki disiplin ilmu. Artinya, mungkin ada pengetahuan prasyarat untuk mempelajari suatu pengetahuan, tetapi pengetahuan prasyarat itu berada pada urutan belakang.
Standar kompetensi adalah besaran dari kompetensi dasar. Komepetensi dasar merupakan pecahan atau hasil penjabaran dari standar kompetensi. Hubungan keduanya perlu kembali dikaji oleh pengembang silabus.
Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran juga perlu dikaji. Ada kompetensi pada mata pelajaran tertentu berhubungan dengan kompetensi mata pelajaran lain. Hubungan itu bisa berupa hubungan sebab atau syarat. Untuk mempelajari kompetensi pada satu mata pelajaran diperlukan kompetensi pada mata pelajaran lain. Oleh karena itu, kajian dilakukan oleh pengembang kurikulum dua atau beberapa mata pelajaran secara bersama-sama. Hasilnya tentu berupa keselarasan antarstandar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.
Pedoman utama dalam pengembangan silabus adalah standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan penyusunan KTSP oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Pengembang silabus perlu mengkaji hubungan atau keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan standar kompetensi lulusan mata pelajaran. Kalau substansi SK dan KD mata pelajaran ditemukan pada SKL, permasalahan tidak ada. Kalau substansi SK dan KD mata pelajaran ada, tetapi tidak ada pada SKL, juga tidak ada permasalahan. Akan tetapi, substansi ada di SKL, di SK dan KD tidak ada, ini baru masalah. Oleh karena itu, pengembang silabus harus menyikapinya. Umpamanya menampilkan SK dan KD baru berdasarkan SKL, atau menjabarkan SKL langsung menjadi KD, dan kemudian menjadi bagian integral dari silabus.
Untuk memperoleh silabus yang baik, dalam penyusunan silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

a. Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.

b. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran, strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran.

c. Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media, serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

d. Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta teknik dan instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini, pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.

e. Memadai
Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD. Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis.

f. Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran. Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

g. Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

h. Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya serta dapat secara optimal melatih kecakapan hidup (life skill).

2. Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar penyusunan alat penilaian.

3. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Potensi peserta didik
b. Relevansi dengan karakteristik daerah
c. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik
d. Kebermanfaatan bagi peserta didik
e. Struktur keilmuan
f. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran
g. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan
h. Alokasi waktu.

4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
2. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar melalui pencapaian indikator.
3. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
4. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi pembelajaran.
5. Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Kegiatan penilaian diawali kegiatan mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik. Informasi itu kemudian diolah dan atau dianalisis sedemikian rupa sehingga dapat diberi makna atau ditafsirkan. Selanjutnya, ditafsirkan atau dimaknai. Hasil dari pemaknaan itulah yang dijadikan landasan untuk mengambil keputusan. Selain itu, penilaian haendaklah dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian, yaitu:
1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
2. Penilaian menggunakan acuan criteria, yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
3. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.

4. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut.
Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.

5. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.

Bahan Ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain :
a. Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b. Kompetensi yang akan dicapai
c. Content atau isi materi pembelajaran
d. Informasi pendukung
e. Latihan-latihan
f. Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g. Evaluasi
h. Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi

Bahan ajar disusun dengan tujuan yaitu:
1) Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa.
2) Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Jenis bahan ajar salah satunya yaitu bahan ajar cetak (printed). Bahan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk.

a. Handout
Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Menurut kamus Oxford hal 389, handout is prepared statement given. Handout adalah pernyataan yang telah disiapkan oleh pembicara. Handout biasanya diambilkan dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/ KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik. Saat ini handout dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan cara down-load dari internet, atau menyadur dari sebuah buku.

b. Buku
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Menurut kamus oxford hal 94, buku diartikan sebagai: Book is number of sheet of paper, either printed or blank, fastened together in a cover. Buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit. Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.

c. Modul
Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang:
• Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
• Kompetensi yang akan dicapai
• Content atau isi materi
• Informasi pendukung
• Latihan-latihan
• Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
• Evaluasi
• Balikan terhadap hasil evaluasi

Sebuah modul akan bermakna kalau peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menyelesaikan satu atau lebih KD dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Dengan demikian maka modul harus menggambarkan KD yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dilengkapi dengan ilustrasi.

d. Lembar kegiatan siswa
Lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya. Lembar kegiatan dapat digunakan untuk mata pembelajaran apa saja. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.

e. Brosur
Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi (Kamus besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996). Dengan demikian, maka brosur dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari KD yang harus dikuasai oleh siswa. Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik, karena bentuknya yang menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak, maka brosur didesain hanya memuat satu KD saja. Ilustrasi dalam sebuah brosur akan menambah menarik minat peserta didik untuk menggunakannya.

f. Leaflet
A separate sheet of printed matter, often folded but not stitched (Webster’s New World, 1996) Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih KD.

g. Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus/proses atau grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Agar wallchart terlihat lebih menarik bagi siswa maupun guru, maka wallchart didesain dengan menggunakan tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart biasanya masuk dalam kategori alat bantu melaksanakan pembelajaran, namun dalam hal ini wallchart didesain sebagai bahan ajar. Karena didesain sebagai bahan ajar, maka wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar antara lain bahwa memiliki kejelasan tentang KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik, diajarkan untuk berapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagai contoh wallchart tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan lingkungannya.
h. Foto/Gambar
Foto/gambar memiliki makna yang lebih baik dibandingkan dengan tulisan. Foto/gambar sebagai bahan ajar tentu saja diperlukan satu rancangan yang baik agar setelah selesai melihat sebuah atau serangkaian foto/gambar siswa dapat melakukan sesuatu yang pada akhirnya menguasai satu atau lebih KD.

2.2.4 Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. Adapun prinsip-prinsip penyusunan RPP yaitu:
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, krea¬tivitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembang¬kan kegemaran membaca, pemahaman beragam ba¬caan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
5. Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, ke¬giatan pembelajaran, indikator pencapaian kompeten¬si, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengako¬modasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegra¬si, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

2.2.5 Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyatakan, “Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0 – 100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus-menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.”
Rambu-rambu penetapan KKM adalah sebagai berikut:
1. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) ditetapkan pada awal tahun pelajaran
2. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) ditetapkan oleh forum MGMP atau KKG sekolah
3. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) dinyatakan dalam bentuk persentase yang berkisar antara 0 – 100%
4. Kriteria minimal ideal ditetapkan masing-masing indikator adalah 75%
5. Satuan pendidikan (sekolah) dapat menetapkan KKM di bawah kriteria minimal ideal, namun harus berupaya meningkatkannya dari tahun ke tahun
6. Dalam menentukan KKM, satuan pendidikan harus mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas indikator; dan kemampuan sumber daya pendukung
7. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) dapat dicantumkan dalam laporan hasil belajar siswa (LHBS) sesuai dengan model laporan yang dipilih.

2.3 Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah berarti perantara. Gerlac & Ely (1971) mengatakan bahwa media dipahami secara garis besar adalah manusia materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, dan sikap. Pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photo grafis atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Media pengajaran juga diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong proses belajar-mengajar. Pada tahun 50-an, media disebut sebagai alat media audio visual karena pada masa itu, peranan media memang semata-mata untuk membantu guru dalam mengajar. Tetapi kemudian, namanya lebih populer sebagai media pengajaran atau media belajar. Pengajaran dengan menggunakan media tidak hanya sekedar menggunakan kata-kata (simbol verbal), sehingga kita harapkan diperolehnya hasil pengalaman yang lebih berati bagi siswa. Dalam hal ini Gagne dan Brigs menekankan pentingnya media sebagai alat untuk merangsang proses belajar-megajar.

Heinichdan, dan kawan-kawan (1982) mengemukakan istilah media sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Media adalah suatu saluran komunikasi. Diturunkan dari bahasa latin yang berarti “antara”. Istilah ini merujuk kepada sesuatu yang membawa informasi dari pengirim informasi kepada penerima informasi. Televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan dan sejenisnya adalah media komunikasi, apabila media itu membawa pesan-pesan yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pengajaran.
Beberapa media yang dikenal dalam pembelajaran antara lain:
• Media non projected seperti fotografi, diagram, sajian(display), dan model-model
• Media projected seperti slide, filmstrip, transparansi, dan komputer proyektor.
• Media dengar seperti kaset dan compact disc.
• Media gerak seperti video dan film.
• Komputer dan multimedia
• Media yang digunakan untuk belajar jarak jauh seperti radio, televisi, dan internet.
Namun pada dasarnya media terkelompokkan kedalam dua bagian yaitu media sebagai pembawa informasi dan media yang sekaligus sebagai alat untuk menanamkan konsep seperti alat-alat peraga pendidikan.
.
Aneka ragam media pengajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Brets membuat klasifikasi berdasarkan adanya tiga ciri, yaitu : suara (audio), bentuk (visual) dan gerak (motion). Atas dasar ini Brets mengemukakan beberapa kelompok media, yaitu :
a. Media audio-motion-visual, yakni media yang mempunyai suara, ada gerakan dan bentuk objektif dapa dilihat. Media semacam ini paling lengkap. Jenis media yang termasuk kelompok ini adalah televisi, radio, tape dan film bergerak.
b. Media audio-still-visual, yani media yang mempunyai suara, objeknya dapat dilihat, namun tidak ada gerakan, seperti film strip bersuara, slide bersuara dan rekaman televisi dengan gambar tak bergerak.
c. Media audio-semi motion, mempunyai suara dan gerakan, namun tidak dapat menampilkan suatu gerakan secara utuh. Salah satu contoh dari media jenis media ini adalah papan tulis jarak jauh atau tele-blackboard
d. Media motion-visual, yakni media yang mempunyai gambar objek bergerak, tapi tanpa mengeluarkan suara, seperti film bisu yang bergerak
e. Media still-visual, yakni ada objel namun tidak ada gerakan, seperti film strip dan slide tanpa suara.
f. Media audio, hanya menggunakan suara, seperti radio, telepon dan audio-tape
g. Media cetak, yang tampil dalam bentuk bahan-bahan tercetak/tertulis seperti buku, modul dan pamflet.

Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa yang kemudian diharapkan dapat mempertinggi pula hasil belajar yang dicapainya. Terdapat beberapa alasan mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar siswa yaitu pertama berkenaan dengan manfaat penggunaanya dalam proses belajar siswa, antara lain :
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran dengan lebih baik.
3) Metode pembelajaran menjadi lebih bervariasi, tidak semata – mata komunikasi verbal melalui penuturan kata – kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan.
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain – lain.
5) Guru lebih mudah mengatur dan memberi petunjuk kepada siswa tentang media yang digunakannya.
Kedua, berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangannya, dimulai dari berpikir kongkret menuju berpikir abstrak, dimulai dari berpikir sederhana menuju ke berpikir kompleks. Penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut, sebab melalui media pembelajaran hal – hal yang abstrak dapat dikongkretkan, dan hal – hal yang kompleks dapat disederhanakan. Dengan demikian, konsep pelajaran akan tertanam, melekat, dan tahan lama dalam pemikiran siswa.
Ketiga, berkenaan dengan manfaatnya bagi guru, antara lain yaitu :
a) Pengajaran yang menjadi lebih menarik bagi siswa akan menjadi motivasi tersendiri bagi guru.
b) Dapat menimbulkan minat, sikap guru, dan penilaian yang baik.
c) Guru tidak kehabisan tenaga karena tidak harus menjelaskan pelajaran dengan komunikasi verbal semata.
d) Suasana sekolah terasa menyenangkan dan tidak membosankan bagi guru.

Berdasarkan kajian teoritik maupun empirik menunjukkan kegunaan media dalam pembelajaran sebagai berikut :
1) Memberikan ransangan yang bervariasi kepada otak kita, sehingga otak dapat berfungsi secara optimal
2) Mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki peserta didik
3) Memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dan lingkungannya
4) Menghasilkan keseragaman pengamatan
5) Meningkatkan keinginan dan minat baru
6) Membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar
7) Memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari sesuatu yang konkret maupun abstrak
8) Meningkatkan kemampuan keterbacaan baru (new literature) yaitu kemampuan membedakan dan menafsirkan objek, tindakan dan lambang yang tampak, baik yang alami maupun buatan manusia yang terdapat lingkungan
9) Mampu meningkatkan efek sosialisasi, yaitu dengan meningkatkan kesadaran akan dunia sekitar
10) Meningkatkan tingkat ekspresi diri baik dari sisi pendidik maupun peserta didik

Dalam usaha mengadakan media dalam proses belajar-mengajar, perlu diberikan pedoman secara umum sebagai berikut :
1. Tidak ada media yang terbaik untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Masing-masing jenis media memiliki kelebihan dan kekuurangan. Oleh karena itu pemanfaatan kombinasi dua atau lebih media akan lebih mampu membantu tercapainya tujuan pembelajaan.
2. Penggunaan media harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Dengan demikian pemanfaat media harus menjadi bagian integral dari penyajian pelajaran
3. Pemakaian media harus memperhatikan kecocokan ciri media dengan karakteristik materi pelajaran yang disajikan.
4. Penggunaan media harus disesuaikan dengan bentuk kegiatan belajar yang akan dilaksanakan seperti belajara klasikal, belajar dalam kelompok kecil, belajar secara individual atau belajar mandiri
5. Penggunaan media harus diserta persiaan yang cukup seperti mempreview media yang akan dipakai, mempersiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan di ruang kelas sebelum pelajaran dimulai dan sebelum peserta masuk. Dengan cara ini diharapkan tidak akan mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar dan mengurangi waktu belajar
6. Peserta didik perlu disiapkan sebelum media pelajaran digunakan agar mereka dapat mengarahakan perhatian pada hal-hal yang penting selama penyajian dengan media berlangsung
7. Penggunaan media harus diusahakan agar senantiasa melibatkan partisipasi aktif peserta

Disamping itu, faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan terhadap pemilihan prioritas pengadaan media pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Relevansi pengadaan media pendidikan edukatif
2. Kelayakan pengadaan media pendidikan edukatif
3. Kemudahan pengadaan media pendidikan edukatif

2.4 Alat Peraga
Dalam merencanakan pengajaran, disamping menentukan media yang akan digunakan, guru perlu pula menetapkan alat-alat pengajaran yang akan dipakai. Jika media selalu mengandung pesan/isi pelajaran didalamnya, tidaklah demikian halnya dengan alat pengajaran. Di dalam alat pengajaran tidak terkandung pesan/isi/bahan pelajaran, tapi peranannya sangat penting alat bantu dalam proses belajar mengajar.

Alat peraga merupakan alat yang digunakan untuk menanamkan konsep sebuah materi kepada siswa. Suatu konsep yang diajarkan kepada siswa tidak akan bertahan lama apabila materi tersebut tidak terlalu dimengerti oleh siswa tetapi hanya mengingat-ingat saja. Begitu juga dengan konsep abstrak yang baru dipahami siswa, konsep tersebut cenderung mengendap apabila siswa hanya belajar melalui penglihatan tanpa adanya perbuatan. Oleh sebab itu, dengan penggunaan alat peraga dalam setiap pembelajaran maka:
• Terciptanya motivasi dalam proses belajar dan mengajar.
• Konsep abstrak dalam matematika tersaji dalam bentuk konkrit sehingga lebih dapat dipahami oleh siswa.
• Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami.
Alat pengajaran dapat dikelompokkan dalam dua jenis alat pengajaran yang bersifat umum dan alat pengajaan yang bersifat khusus.
a. Alat pengajaran yang bersifat umum
Yang dimaksudkan dengan jennis ini adalah alat-alat pengajaran yang penggunaannya berlaku untuk semua mata pelajaran seperti papan tulis kapur, spidol, dan penggaris.
b. Alat pengajaran yang bersifat khusus
Yaitu alat pengajaran yang penggunaanya berlaku khusus untuk mata pelajaran tertentu, seperti :
a) Mikroskop untuk IPA
b) Jangka untuk matematika
c) Kuas untuk melukis

Disamping pembagian tersebut, alat-alat pengajaran dapat pula dikelompokkan menjadi alat pengajaran klasikal dan alat pengajaran individual:
1) Alat pengajaran klasikal adalah alat yang dapat digunakan untuk seluruh kelas sekaligus, sperti papan tulis, kapur dan spidol.
2) Alat pengajaran individual adalah alat yang digunakan oleh setiap siswa secara perorangan seperti pensil, pena, penggaris dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa alat pengajaran klasikal digunakan pada saat siswa-siswa dilibatkan dalam kegatan yang sama, sedangkan alat pengajran yang individual digunakan pada waktu siwa-siswa sedang melakukan kegiatan-kegiatan sendiri-sendiri.
Seperti halnya dengan media pengajaran, dalam melihat alat-alat pengajaran yang sesuai untuk kegiatan belajr-mengajar tertentu, terutama alat pengajaran yang bersifat khusus, perlu pula diperhatikan sejumlah faktor, yaitu :
1. Kesuaiannya dengan kemampuan yang ingin dikembangkan dalam diri siswa. Jika dalam suatu pelaran ingin dikembangkan kemampuan siswa membuat gambar lingkaran dalam berbagai ukuran, maka penggunaan jangka sebagai alat pengajaran tidak bisa dihindari
2. Kesesuaian dengan tingkat pemahaman siswa
Untuk siswa kelas rendah, penggunaan alat-alat canggih seperti mikroskop atau berbagai jenis tabung yang mudah pecah maka mungkin sebaiknya dihindari
3. Kemampuan penyediaannya
Penentuan alat yang digunakan sebaiknya didasarkan pula atas pertimbangan sejauh mana sekolah atau siswa dapat menyediakannya dilihat dari kemudahan mendapatkan maupun harga.
2.5 Syarat dan Kriteria Media dan Alat Peraga
Menurut E.T Rusefensi beberapa persyaratan alat peraga yang dapat digunakan selama proses pembelajaran antara lain :
1. Tahan Lama
2. Bentuk dan warnanya menarik
3. Sederhana dan mudah dikelola
4. Ukurannya sesuai
5. Dapat menyajikan konsep matematika baik dalam bentuk real, gambar, atau diagram
6. Sesuai dengan konsep matematika
7. Dapat memperjelas konsep matematika kadan bukan sebaliknya
8. Peragaan itu supaya menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep berfikir abstrak bagi siswa
9. Menjadikan siswa belajar aktif dan mandiri dengan memanipulasi alat peraga
10. Bila mungkin alat peraga tersebut bisa berfaedah lipat (banyak)
Kriteria menggunakan alat peraga sangat bergantung pada :
a. Tujuan (obyektif)
Pemilihan kriteria alat peraga yang tepat dapat mempengaruhi tujuan pengajaran yang akan dicapai apakah alat peraga tersebut mampu meningkatkan domain, cognitif, psikomotor yang merupakan tujuan dari sebuah pembelajaran.
b. Materi Pelajaran
Alat peraga biasanya dipakai untuk membantu siswa dalam memahami sebuah konsep dasar dalam materi pembelajaran matematika sehingga memudahkan siswa dalam pemahaman materi dalam ruang lingkup dan kesukaran yang lebih tinggi. Peragaan untuk konsep dasar digunakan untuk mempermudah konsep selanjutnya.
c. Strategi Belajar Mengajar
Dengan menggunakan alat peraga maka akan mempermudah guru didalam menerapkan strategi didalam mengajar. Pengunaan alat peraga merupakan strategi pengajaran dalam metode penemuan ataupun permainan.
d. Kondisi
Media alat peraga membantu guru pada kondisi-kondisi tertentu misalnya saja pada kondisi kelas yang penuh dengan siswa sehingga diperlukan pengeras suara untuk mempermudah guru agar dapat didengar oleh siswanya saat menjelaskan materi.
e. Siswa
Pemilihan alat peraga disesuaikan dengan apa yang disukai oleh anak misalnya saja alat peraga yang berupa permainan namun hal tersebut tentunya tidak lepas dari tujuan pembelajaran.
Macam-macam alat peraga dalam pembelajaran matematika yaitu:
1) Alat peraga kekekalan luas. Contohnya: Luas daerah persegi panjang, luas daerah segitiga, Luas daerah lingkaran dan lain-lain.
2) Alat peraga kekekalan panjang. Contohnya: Tangga Garis Bilangan, Pita Garis Bilangan, Neraca Bilangan, Mistar dan lain-lain.Alat peraga kekekalan volume. Contohnya: Volume Kubus, Volume Balok, Volume Kerucut dan sebagainya.
3) Alat peraga kekekalan banyak. Contohnya: Abakus Biji, Lidi, Pipet, Kartu nilai empat dan sebagainya.
4) Alat peraga untuk percobaan dalam teori kemungkinan. Contohnya: Uang logam, Dadu, Bidang empat dan lain-lain.
5) Alat peraga untuk pengukuran dalam matematika. Contohnya: Meteran, Busur derajat, Jangka sorong dan lain-lain.
6) Bangun-bangun geometri. Contohnya: Kerangka benda ruang, Benda ruang, Macam-macam daerah segitiga dan sebagainya.
7) Alat peraga untuk permainan dalam matematika. Contohnya: Bujur sangkar ajaib, Saringan erasthotenes, Perkalian tulang napier, Halma bilangan dan lain-lain.

BAB III
HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil observasi

3.1.1 Profil Sekolah
Sekolah Menegah Pertama Negeri 12 Padang merupakan sekolah yang terletak di jalan Jhoni Anwar, Lapai, Padang. Sekolah ini baru saja ditetapkan sebagai Sekolah Rintisan Bertaraf Internasinal (RSBI) pada tahun ajaran 2009/2010. Terdapat tiga kelas RSBI yaitu kelas VII RSBI 1, kelas VII RSBI 2, dan kelas VII RSBI 3. Selain itu, juga terdapat kelas bilingual, dimana sistem dan konsep pembelajaran yang diajarkan hampir sama dengan sistem pembelajaran yang diajarkan di kelas RSBI yakni dengan menggunakan dua bahasa.

Jika dilihat dari kondisi lingkungan sekolahnya, sekolah ini memiliki dapat dikatakan cukup baik, namun hanya saja lapangan yang tersedia tidak cukup besar. Artinya, ruang lingkup sekolah tersebut agak sempit atau kurangnya lapangan bermain. Selain itu, jika dilihat dari segi kedisiplinannya, sekolah ini masuk kedalam kategori yang cukup disiplin. Hal ini dapat terlihat dengan adanya papan pelanggaran dan sanksi yang menjabarkan macam-macam pelanggran beserta sanksi yang sesuai dengan pelanggarannya. Jika dilihat dari segi bangunan sekolahnya pasca gempa 2009, sekolah tersebut sepertinya belum tersentuh dengan segala perbaikan. Hal ini terlihat dengan masih adanya sisa-sisa keretakan gempa 2009 di ruangan belajar RSBI dan juga diruang majelis guru.

Adapun mengenai media dan alat peraga yang ada disekolah tersebut, semua dalam kondisi baik. Hanya saja, mungkin ada beberapa yang sudah mulai agak rusak diakibatnya sering atau jarangnya alat tersebut dipergunakan. Namun sayangnya, alat peraga yang ada tersebut tidak dapat dipakai sebagai alat pengajaran untuk materi dan kelas ajar semester ini (kelas VII semester 1).

3.1.2 Hasil Observasi Kelas

OBSERVASI I
Hari/ Tanggal :Senin/ 25 Oktober 2010
Jam Pelajaran : 3-4
Kelas :VII RSBI 3
Materi Pelajaran : Bentuk Aljabar dan unsur-unsurnya
Guru Matematika : Kartini Djamil, S.Pd.

Perangkat Pembelajaran
Pada saat observasi dilakukan, guru tidak menggunakan perangkat pembelajaran yang dapat digunakan untuk menambah pemahaman siswa terhadap materi yang dijelaskan, hal ini didasarkan karena materi yang dipelajari pada saat itu tidak memerlukan perangkat pembelajaran cukup hanya dijelaskan saja dan siswa diberi latihan. Adapun peralatan yang dibawa oleh guru adalah spidol, buku pegangan matematika yang digunakan oleh guru pada saat memberikan materi. Sedangkan perangkat pembelajaran lain seperti silabus, RPP dan yang lainnya tidak terlihat dibawa oleh guru.

Media Pembelajaran
Sebelum pelajaran dimulai, siswa menyiapkan buku pelajarannya masing-masing berupa buku tulis (buku catatan, buku latihan dan buku tes kecil), alat-alat tulis lainnya, buku panduan dan LKS. Materi yang sedang dibahas pada saat observasi berlangsung adalah tentang bentuk aljabar dan unsur-unsurnya sehingga dirasa tidak terlalu memerlukan media pembelajaran yang berupa alat peraga. Guru hanya menggunakan whiteboard dan spidol saja.

OBSERVASI II dan III
Hari/ Tanggal :Rabu/ 27 Oktober 2010
Jam Pelajaran :1-2 dan 3-4
Kelas :VII RSBI 1 dan VII RSBI 2
Materi Pelajaran : Bentuk aljabar dan unsur-unsurnya
Guru Matematika : Kartini Djamil, S.Pd

Perangkat Pembelajaran
Pada saat observasi dilakukan, guru tidak menggunakan perangkat pembelajaran yang dapat digunakan untuk menambah pemahaman siswa terhadap materi yang dijelaskan, hal ini didasarkan karena materi yang dipelajari pada saat itu tidak memerlukan perangkat pembelajaran cukup hanya dijelaskan saja dan siswa diberi latihan. Adapun peralatan yang dibawa oleh guru adalah spidol dan buku pegangan matematika yang tidak di gunakan oleh guru dalam memberikan materi dan sebuah buku tulis kecil yang berisi materi pelajaran yang ingin dijelaskan oleh guru. Sedangkan perangkat pembelajaran lain seperti silabus, RPP dan yang lainnya tidak terlihat dibawa oleh guru.

Media Pembelajaran
Sebelum pelajaran dimulai, siswa menyiapkan buku pelajarannya masing-masing berupa buku tulis dan alat-alat tulis lainnya, dan terlihat sebagian besar siswa membawa buku panduan tetapi tidak mereka gunakan pada saat pembelajaran berlangsung karena mereka hanya mencatat apa yang diberikan oleh guru dipapan tulis dan mengerjakan soal latihan yang diberikan dan menuliskan jawaban mereka dipapan tulis serta mengoreksi jawaban yang benar dari tugas yang diberikan kepada mereka pada pertemuan yang lalu.
Materi yang sedang dibahas pada saat observasi berlangsung adalah tentang bentuk aljabar dan unsure-unsurnya sehingga dirasa tidak terlalu memerlukan media pembelajaran yang berupa alat peraga. Guru hanya menggunakan whiteboard dan spidol saja dan ditambah dengan sebuah buku tulis kecil yang berisi materi yang ingin dijelaskan oleh guru.
Pada observasi 2 dan observasi 3 ini, guru menggunakan media dan alat peraga yang sama, karena materi yang akan dijelaskan juga sama pada kelas sebelumnya. Hanya saja kondisi kelas yang berdeda.

OBSERVASI IV dan V
Hari/ Tanggal :Rabu/ 3 November 2010
Jam pelajaran :1-2 dan 3-4
Kelas :VII RSBI 1 dan VII RSBI 2
Materi Pelajaran : Operasi hitung dalam bentuk aljabar
Guru Matematika : Kartini Djamil, S.Pd

Perangkat Pembelajaran
Pada saat observasi dilakukan, guru tidak menggunakan perangkat pembelajaran yang dapat digunakan untuk menambah pemahaman siswa terhadap materi yang dijelaskan, hal ini didasarkan karena materi yang dipelajari pada saat itu tidak memerlukan perangkat pembelajaran cukup hanya dijelaskan saja dan siswa diberi latihan. Adapun peralatan yang dibawa oleh guru adalah buku absen dan spidol, buku pegangan matematika yang tidak di gunakan oleh guru dalam memberikan materi sedangkan perangkat pembelajaran lain seperti silabus, RPP dan yang lainnya tidak terlihat dibawa oleh guru.

Media Pembelajaran
Sebelum pelajaran dimulai, siswa menyiapkan buku pelajarannya masing-masing berupa buku tulis dan alat-alat tulis lainnya, dan terlihat sebagian besar siswa membawa buku panduan tetapi tidak mereka gunakan pada saat pembelajaran berlangsung karena mereka hanya mencatat apa yang diberikan oleh guru dipapan tulis dan mengerjakan soal latihan yang diberikan dan menuliskan jawaban mereka dipapan tulis.
Materi yang sedang dibahas pada saat observasi berlangsung adalah tentang operasi hitung dalam bentuk aljabar sehingga dirasa tidak terlalu memerlukan media pembelajaran yang berupa alat peraga. Guru hanya menggunakan whiteboard dan spidol saja.

OBSERVASI VI
Hari/ Tanggal :Sabtu/ 13 November 2010
Jam pelajaran :1-2
Kelas :VII RSBI 2
Materi Pelajaran : Aritmetika Sosial
Guru Matematika : Kartini Djamil, S.Pd
Perangkat Pembelajaran
Pada saat observasi dilakukan, guru tidak menggunakan perangkat pembelajaran yang dapat digunakan untuk menambah pemahaman siswa terhadap materi yang dijelaskan, hal ini didasarkan karena materi yang dipelajari pada saat itu tidak memerlukan perangkat pembelajaran cukup hanya dijelaskan saja dan siswa diberi latihan. Adapun peralatan yang dibawa oleh guru adalah spidol dan buku pegangan matematika yang tidak di gunakan oleh guru dalam memberikan materi serta sebuah buku tulis yang berisi materi yang hendak diajarkan ke siswa. Sedangkan perangkat pembelajaran lain seperti silabus, RPP dan yang lainnya tidak terlihat dibawa oleh guru.

Media Pembelajaran
Sebelum pelajaran dimulai, siswa menyiapkan buku pelajarannya masing-masing berupa buku tulis dan alat-alat tulis lainnya, dan terlihat sebagian besar siswa membawa buku panduan tetapi tidak mereka gunakan pada saat pembelajaran berlangsung karena mereka hanya mencatat apa yang diberikan oleh guru dipapan tulis dan mengerjakan soal latihan yang diberikan dan menuliskan jawaban mereka dipapan tulis.
Materi yang sedang dibahas pada saat observasi berlangsung adalah tentang aritmetika sosial sehingga dirasa tidak terlalu memerlukan media pembelajaran yang berupa alat peraga. Guru hanya menggunakan whiteboard dan spidol saja.

HASIL WAWANCARA GURU
TENTANG PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA

1. Bagaimana tanggapan Ibu/ Bapak tentang peserta didik Ibu/Bapak terhadap pembelajaran matematika?
Jawaban :
Menurut saya, tanggapan siswa terhadap pembelajaran matematika sangat baik, semangat belajar yang mereka tunjukkan juga baik dengan motivasi belajar yang baik juga.

2. Apakah dalam proses belajar mengajar (PBM) Ibu/Bapak ada menggunakan perangkat pembelajaran? (Silabus, RPP, Buku Latihan,buk paket, dan LKS?)
Jawaban :
Iya pastinya. Namun, silabus dan RPP tidak pernah dibawa. Hanya buku paket dan LKS saja yang dipakai.

3. Apakah RPP yang dirancang sudah terlaksana dengan efektif dan mewakili seluruh materi yang akan diajarkan?
Jawaban :
Sudah. Karena dalam memberikan pembelajaran kepada siswa dikelas dituntun berdasarkan RPP yang dibuat.

4. Apakah Ibu/Bapak mencantumkan penggunaan media pembelajaran (media pengajaran dan alat peraga) di dalam silabus dan RPP?
Jawaban :
Iya. Karena dalam RPP, semua metode, media, perangkat yang dipergunakan harus dicantumkan agar pada saat memberikan pembelajaran kepada siwa lebih terarah dan tertuntun.

5. Bagaimana pendapat Ibu/Bapak tentang perangkat pembelajaran? (Apakah perangkat pembelajaran itu benar-benar menunjang proses belajar menjadi lebih baik?)
Jawaban :
Perangkat pembelajaran benar-benar menunjang PBM dan membuat pembelajaran menjadi terarah membuat siswa paham lebih cepat terhadap konsep dan materi pembelajaran, karena dengan perangkat pembelajaran yang berupa media dan alat peraga siswa bisa melihat langsung dan guru dapat lebih mudah membimbing mereka. Apalagi kalau alat peraga dibuat sendiri oleh siswa seperti: balok, kubus, prisma dan bangunan ruang lainnya yang terbuat dari karton, tentu saja siswa akan lebih mudah mengerti. Seperti bagian mana yang disebut dengan alas? Bagian mana yang disebut dengan sisi? Dll.

6. Bagaimana cara Ibu/Bapak dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran dan bahan ajar sebelum proses pembelajaran berlangsung?
Jawaban :
Cara saya mempersiapkannya yaitu dipersiapkan sebelum semester dimulai, karena laporan setiap perangkat pembelajaran tersebut harus dilaporkan “keatas”(kepala sekolah, pengawas, dll) sebelum PBM berlangsung.

7. Bagaimanakah cara penyediaan media pembelajaran atau alat peraga yang di sekolah ini?
Jawaban :
Sebagian alat peraga, ada yang disediakan oleh sekolah seperti laptop, infokus, kerangka-kerangka bangun ruang, dll. Ada juga alat peraga yang disediakan oleh saya sendiri, misalnya pada materi pembuktian rumus segitiga, saya membuatnya dengan kartin. Terus benang, yang digunakan untuk membuktikan diagonal ruang, dll. Siswa juga ada yang membuat media pembelajaran yang terbuat dari karton yakni membuat bangun ruang seperti kubus, balok,dll.

8. Apakah penggunaan Media Pembelajaran atau alat peraga dapat menarik perhatian siswa dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan?
Jawaban :
Pastinya membuat menarik siswa. Ketika belajar dengan menggunakan media, cara belajar mereka sangat antusias.

9. Bagaimana penggunaan alat peraga matematika dalam pembelajaran yang Ibu/Bapak laksanakan? Apakah sudah terlaksana dengan efektif?
Jawab:
Sudah.
a. Alat peraga matematika apa saja yang disediakan oleh sekolah?
Jawab:
Semua alat peraga di sediakan oleh sekolah dan semuanya dalam kondisi yang cukup baik, tetapi hanya saja sekolah tidak mempunyai ruangan yang khusus untuk tempat meletakannya, semua alat peraga diletakkan di dalam gudang sehingga guru menjadi sedikit enggan untuk menggunakannya karena hanya ditumpukkan begitu saja di dalam gudang.
b. Alat peraga matematika apa yang Ibu/Bapak buat untuk pembelajaran?
Jawab:
Jarang sekali saya membuat alat peraga sendiri, biasanya saya hanya memanfaatkan yang sudah ada saja. Dan pada saat sekarang saya menggunakan media pengajaran berupa chart yang saya buat sendiri dari kertas Koran. Kalau untuk alat peraga lebih baik menggunakan apa yang sudah disediakan oleh sekolah saja.
c. Adakah alat peraga yang dibuat oleh peserta didik Ibu/Bapak?
Jawab:
Ada. Terbuat dari karton dalam materi bangun ruang.
d. Bagaimana frekuensi penggunaannya? Sering, jarang, atau tidak ada sama sekali, apa alasannya?
Jawab:
Jarang. Tergantung dengan materi yang akan diajarkan. Banyak materi pada semester yang tidak memerlukan alat peraga.
e. Materi pelajaran apa saja yang memerlukan alat peraga semester ini?
Jawab:
Untuk semester ini, tidak ada materi yang memerlukan alat peraga.


Hasil Wawancara Siswa
Kesimpulan jawaban dari 3 orang siswa yang diwawancarai.
1. Bagaimana tanggapan siswa tentang belajar matematika? (menyenangkan, membosankan)
Jawab:
Bahwa siswa tersebut menyukai dan meyenangi belajar matematika.
2. Bagaimana tanggapan siswa tentang guru matematikanya?
Jawab:
Tanggapan siswa tersebut tentang guru nmatematikanya adalah sangat menyenangkan karena cara mengajarnya tidak membosankan. Selalu diselingi dengan humor sehingga proses belajar mengajar tidak kaku dan pelajaran mudah dimengerti. Selain itu, ibuk selalu memperhatikan siswa yang tidak bisa dan mendekatinya untuk diberi pengertian lebih jelas. Dan juga, ibuk tersebut menjelaskan materi sejelas mungkin.
3. Apakah ada media atau alat peraga yang dipakai oleh siswa? (misalnya: buku paket, LKS,dll). Bagaimana cara pengadaannya? (apakah dibeli secara pribadi, buku BOS, atau dipinjamkan oleh pihak sekolah?
Jawab:
LKS kadang-kadang dipakai. Sedangkan buku paket sering dipakai.
Dalam pengadaannya, LKS dibeli oleh masing-masing individu sedangkan buku paket dipinjamkan oleh pihak sekolah.
4. Pernahkah siswa merasakan sistem pembelajaran menggunakan alat peraga? (misalnya: dalam pembelajaran tentang bangun datar, bangun ruang, dll)
Jawab:
Pernah tapi jarang. Lebih sering langsung diterangi.
Namun, pernah pada pembelajaran tentang materi bilangan bulat. Guru menggunakan mistar.
5. Apakah siswa tertarik dengan sistem pembelajaran seperti itu?
Jawab:
Tertarik. Karena belajar dengan sistem yang ibuk pakai tidak membuat siswa jenuh dengan belajar matematika.
6. Siapakah yang mengadakan alat peraga tersebut? Siswa atau guru? Jika siswa, diberikan secara kelompok atau pribadi?
Jawab:
Tidak tahu.
7. Apa saja alat peraga yang pernah dibuat dan disuruh oleh guru kepada siswa?
Jawab:
Tidak pernah. Karena tidak ada materi yang dapat dijelaskan dengan alat peraga.
8. Bagaimana pendapatnya tentang pembelajaran menggunakan alat peraga ini? Apakah ada respon khusus? (Seperti: suka, jadi lebih mengerti dll)
Jawab:
Tidak tahu.
9. Apa saran siswa untuk gurunya?
Jawab:
Siswa menyarankan ibuk untuk mempertahankan sistem pembelajaran seperti ini dan upaya kan mengajar dengan cepat untuk dimengrti. Cara ngomongnya jangan bikin bosan. Selalu buat humor agar kami tidak jenuh.

3.2 Pembahasan

1. Perangkat pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan, dapat diketahui bahwa SMP N 12 Padang sebenarnya sudah memiliki beberapa perangkat pembelajaran yang cukup baik untuk mendukung proses pembelajaran. Namun, karena jarang digunakan dan dalam kondisi pasca gempa perangkat pembelajaraan tersebut sudah kurang layak lagi untuk digunakan.
Penggunaan RPP belum terlaksana dengan optimal, hal ini terlihat pada saat observasi, guru tersebut tidak menggunakan RPP dalam proses pembelajaran. Padahal penggunaan RPP akan membantu guru dalam memaksimalkan waktu yang ada untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga proses belajar mengajar lebih terarah dan tertuntun. Namun, ibuk mengatakan walau RPP tidak pernah dibawa ia tetap mengajarkan proses belajar mengajar tersebut sesuai dengan RPP yang ada.

2. Media pembelajaran
Pada saat pengamatan berlangsung guru tidak menggunakan alat peraga apapun, karena materi yang diajarkan adalah bentuk aljabar dan operasi aritmetika yang tidak membutuhkan alat peraga.
Guru tersebut menggunakan media berupa whiteboard dan spidol. Begitu juga dengan buku pegangan matematika. Guru tersebut membawa buku tulis kecil yang telah dipersiapkannya sendiri sebelum memasuki tahun ajaran baru sebagai pedoman untuk memberikan pengajaran kepada siswa.

Hasil belajar matematika yang ditunjukkan oleh siswa sangat baik. Banyak diantara mereka yang memperoleh hasil belajar yang tinggi. Hal ini disebabkan karena kemampuan guru, kemampuan siswa, lingkungan tempat belajar, media atau alat peraga, dan materi atau bahan pembelajaran mendukung tercapainya hasil belajar yang baik.
Dengan adanya media pendidikan atau alat peraga siswa akan lebih banyak mengikuti pelajaran matematika dengan senang dan gembira sehingga minatnya dalam mempelajari matematika semakin besar. Siswa akan senang, tertarik, terangsang dan bersikap positif terhadap proses pembelajaran matematika.

Pada dasarnya secara individu berbeda-beda. Bgitu juga dengan cara kita memahami suatu konsep atau mengerti akan suatu pelajaran. Matematika merupakan pelajaran yang menuntut intuisi yang tinggi. Sehingga jika seseorang tidak mampu menggunakan intusi maka pasti mereka akan sulit untuk mengerti. Seperti itulah jika dalam belajar matematika, kalau ia tidak bisa memainkan pikirannya maka ia akan menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit. Tetapi, jika ia bisa memainkan pikirannya, konsep matematika teresebut akan diperolehnya dan tertanam di otaknya. Apalagi matematika merupakan dasar dari segala ilmu sehingga konsep matematika itu harus wajib tertanam di banak kita.

Alat peraga merupakan bagian dari media pendidikan yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah dituangkan dalam Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) mata pelajaran matematika dan bertujuan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar.

Menurut Roseffendi (1997:227-228) ada beberapa fungsi penggunaan alat peraga dalam pengajaran matematika, diantaranya sebagai berikut:
1) Dengan adanya alat peraga, anak-anak akan lebih banyak mengikuti pelajaran matematika dengan gembira, sehingga minatnya dalam mempelajari matematika semakin besar. Anak senang, terangsang, kemudian tertarik dan bersikap positif terhadap pembelajaran matematika.
2) Dengan disajikan konsep abstrak matematika dalam bentuk konkret, maka siswa pada tingkat-tingkat yang lebih rendah akan lebih mudah memahami dan mengerti.
3) Anak akan menyadari adanya hubungan antara pembelajaran dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, atau antara ilmu dengan alam sekitar dan masyarakat.
4) Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkret, yaitu dalam bentuk model matematika dapat dijadikan obyek penelitian dan dapat pula dijadikan alat untuk penelitian ide-ide baru dan relasi-relasi baru.
Dari uraian di atas dijelaskan bahwa penggunaan alat peraga dapat membantu kelancaran proses belajar mengajar. Alat peraga dapat mengatasi beberapa masalah pengajaran dan dapat menunjng tercapainya tujuan pengajaran. Akan tetapi ini sama dengan syarat kita untuk dapat memilih dan menggunakannya. Oleh karena itu ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam menentukan alat peraga yang akan dipakai. Beberapa kriteria yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut:
a) Alat peraga sebaiknya sederhana.
b) Mudah diperoleh.
c) Mudah digunakan.
d) Mudah disimpan.
e) Memperlancar pengajaran.
f) Dapat digunakan untuk beberapa topik.
g) Tahan lama.
h) Disertai petunjuk.
i) Sesuai dengan topik yang diajarkan.
j) Disertai lembar kerja.
k) Tidak menimbulkan salah tafsir.
l) Mengarah pada satu pengertian.
m) Disesuaikan.

3. Analisis Angket
Angket merupakan suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analisis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik. Angket pada observasi ini dipergunakan untuk mengetahui seberapa besar penggunaan media dan alat peraga yang digunakan oleh guru selama proses belajar mengajar. Angket ini disebarkan kepada siswa sebagai objek pengamatan dan sebagai orang yang merasakan ada atau tidaknya penggunaan media dan alat peraga oleh guru yang bersangkutan.

Dari perhitungan persentase angket yang diberikan kepada siswa diperolah penilaian siswa terhadap guru tentang penggunanan perangkat pembelajaran dalam proses pembelajaran maematika yaitu:
• 20, 83% dari siswa menyatakan penggunan perangkat sangat sering dipakai
• 45, 83% dari siswa menyatakan penggunan perangkat sering dipakai.
• 33, 33% dari siswa menyatakan penggunan perangkat jarang dipakai.

Namun, kenyataannya, ketika penulis melakukan observasi, jarang sekali penulis temukan guru yang bersangkutan menggunakan perangkat. Hanya saja, dari setiap pertemuan yang dilakukan dan pada kelas yang berbeda, media yang digunakan hanya berupa buku paket, buku tulis, whiteboard, dan spidol. Hal ini kontra dengan jawaban atau tanggapan siswa dari angket yang diberikan, mungkin dikarenakan kurang mengertinya siswa dengan maksud perangkat dan menganggap perangkat tersebut adalah sistem pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan ataupun menganggap bahwa pernah adanya penggunaan alat peraga, namun bukan pada saat penulis melakukan observasi.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari observasi yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Pihak sekolah menyediakan berbagai sarana dan prasarana kelengkapan belajar dalam bentuk alat peraga, hanya saja sangat jarang sekali digunakan oleh guru pada saat proses pembelajaran dberlangsung. Hal ini dikarenakan materi pelajaran yang diberikan mungkin kurang membutuhkan alat peraga.
2. Guru menjelaskan materi pelajaran tidak berdasarkan silabus dan RPP. Namun, “akunya” , guru tersebut mengajarkan pembelajaran matematika berdasarkan RPP.
3. Tidak banyak hal yang bisa penulis simpulkan disini tentang gambaran media dan alat peraga yang di gunakan, karena guru yang bersangkutan pun juga sulit menjelaskan tentang kondisi media dan alat peraga pada saat sekarang ini. Hal ini disebabkan karena media dan alat peraga yang ada di SMP 12 Padang jarang terpakai dan kurang perawatan sehingga sudah mulai agak rusak dan kadang ada yang kurang layak pakai lagi

4.2 Rekomendasi
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis merekomendasikan:
1. Silabus dan RPP yang dirancang harus lengkap tiap komponennya sehingga dapat membantu siswa dalam mengembangkan potensinya.
2. Dalam mengajar, hendaknya disesuaikan dengan RPP yang ada dan selalu dibawa agar tidak lupa, dalam memberikan pengajaran siswa. Artinya, dalam proses belajar mengajar terarah.
3. Perangkat pembelajaran sebaiknya dipersiapkan sebaik mungkin dan dipergunakan dalam proses pembelajaran sehingga akan membantu guru mewujudkan pencapaian tujuan pembelajaran.
4. Sebaiknya pembelajaran matematika diiringi dengan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi dan alat peraga yang tepat sehingga mudah dipahami, diingat, dan dapat memotivasi siswa dalam terhadap pembelajaran matematika.
5. Sebaiknya media dan alat peraga yang ada dirawat baik dan diberikan tempat khusus penyimpanan agar media dan alat peraga tersebut tidak rusak. Namun, disimpan bukan berarti tidak dipakai. Hanya merupakan sebuah perawatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. PT.Bina Akasar : Jakarta.

Harjanto. 1997. Perencanaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta

http://www.alat-peraga-dan-matematika.htm

Panduaan Perangkat Pembelajaran

Panduan Penyusunan Silabus

Panduan Penyusunan RPP

Panduan Penyusunan Bahan Ajar

Disusun Oleh :

Tomi Tridaya Putra

Delvia Afriliani

Esa Putri Dinanti

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Padang 2008
Sebagai Tugas Mata Kuliah Telaah Kurikulum Matematika Pendidikan Dasar

About these ads

3 thoughts on “Laporan Observasi : Penggunaan Perangkat Pembelajaran Matematika di SMP Negeri 12 Padang

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s