Taksonomi Bloom

A. Pegertian Taksonomi
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani, tassein berarti mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian- sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.
Benjamin S Bloom
Berkaitan dengan pendidikan, taksonomi merujuk pada tujuan pendidikan. Hal ini digunakan untuk menganalisis atau mengkalsifikasikan sebuah pandangan yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan dalam bentuk sehari-hari.

B. Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom adalah taksonomi yang dikemukan oleh Benjamin Bloom (1956) dalam memberikan inspirasi kepada pakar pendidikan lainnya dalam melahirkan taksonomi lain. Menurut Arikunto (2009:116) ada 4 prinsip dasar yang digunakan Bloom:
1. Prinsip Metodologis
Perbedaan-perbedaan yang besar telah merefleksi kepada cara-cara guru dalam mengajar.
2. Prinsip Psikologis
Taksonom hendaknya konsisten dengan fenomena kejiwaaan yang ada sekarang.
3. Prinsip Logis
Taksonomi hendaknya dikembangkan secara logis dan konsiten.
4. Prinsip Tujuan

Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai. Tiap-tiap jenis tujuan pendidikan hendaknya menggambarkan corak yang netral.

Taksonomi Bloom merupakan hasil kelompok penilai di Universitas yang terdiri dari B.S Bloom Editor M.D Engelhart, E Frust, W.H. Hill dan D.R Krathwohl, yang kemudian di dukung oleh Ralp W. Tyler. Bloom merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada 3 tingkatan :
1. Kategori tingkah laku yang masih verbal
2. Perluasan kategori menjadi sederetan tujuan
3. Tingkah laku konkrit yang terdiri dari tugas-tugas dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai ujian dan butir-butir soal.

Tujuan pendidikan tersebut dibagi ke dalam tiga domain/Ranah :
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif) yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir
2. Affective Domain (Ranah Afektif) yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengopersikan mesin.

Berikut akan dijelaskan Taksonomi Bloom yang dikembangkan oleh B.S Bloom serta Teksonomi yang di revisi oleh Aderson dan Krathwohl (2001).

C. Taksonomi Bloom Sebelum Revisi
Taksonomi bloom dikemukan oleh B.S Bloom, Bloom membagi atas 3 Ranah Pengetahuan :

1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir yang hirarki mulai dari jenjang terendah sampai jenjang yang tertinggi.yang meliputi 6 tingkatan:

a. Pengetahuan (Knowledge), yang disebut C1
Menekan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Informasi yang dimaksud berkaitan dengan simbol-simbol matematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsip-prinsip.

Contoh:
Sebutkan contoh-contoh dari bilangan prima?
Apakah pembagian pada bilangan bulat bersifat tertutup?

b. Pemahaman (Comprehension), yang disebut C2
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan ide-ide lain dengan segala implikasinya.

Contoh :
Jelaskan pengertian dari bilangan rasional dan irrasional?
Dengan menggunakan sifat-sifat yang berlaku pada penjumlahan bilangan bulat, hitunglah hasil penjumlahan berikut.
23 + (–19) + 37
32 + (–27) + (–43)
(–51) + 75 + 51
–38 + (–45) + (–22)
(–49) + 56 + (–31)
25 + (–17) + (–28)

c. Penerapan (Aplication), yang disebut C3
Kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasikan pemahaman mereka berkenaan dengan sebuah abstraksi matematika melalui penggunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk itu. Untuk menunujukan kemampuan tersebut seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang telah mereka miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya.

Contoh:
Tentukan nilai dari √18+√72-√8 = ………
Hitunglah nilai n dari 32 x 45=n, (gunakan hukum yang berlaku pada proses perkalian).

d. Analisis (Analysis), yang disebut C4
Kemampuan untuk memilih sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikan hingga hirarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Bloom mengidentifikasi tiga jenis analisis yaitu : (1) analisis elemen dan bagian, (2) analisis hubungan, (3) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Analisis berkaitan dengan pemilahan materi ke dalam bagian-bagian, menemukan hubungan antar bagian, dan mengamati pengorganisasian bagian-bagian.

Contoh :
Sebuah kantin sekolah mencatat banyak penjualan minuman kaleng setiap minggu sebagai berikut:
46, 25, 26, 32, 28, 36, 40, 34, 37, 39, 40, 28
Carilah median dari data banyak penjualan minuman tersebut
Tentukan modus dan jangkauan
Nilai apakah yang paling tepat untuk menggambarkan penjualan minuman per minggu tersebut?

e. Sintesis (Synthesis) , yang disebut C5
Kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik dan sistem. Dalam matematika, sintesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur matematika yang lain dan berbeda dari yang sebelumnya. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur-struktur matematika.

Contoh :
Buktikan bahwa sin⁡〖A+sin⁡〖B-sin⁡〖C=4 sin⁡〖A/2〗 〗 〗 〗 sin⁡〖B/2 sin⁡〖C/2〗 〗

f. Evaluasi (Evaluation), yang disebut C6
Kegiatan membuat penilaian berkenaan dengan nilai sebuah ide, kreasi, cara, atau metode. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranah-ranah kognitif yang lain, mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, hingga sintesis.

Contoh : Jelaskan jenis-jenis himpunan bilangan asli beserta contohnya

Keenam jenjang berpikir pada ranah kognitif ini bersifat kontinum dan overlap (tumpang tindih), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada dibawahnya.

2. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa, sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya. Bila seseorang memiliki penguasaan kognitif yang tinggi, ciri-ciri belajar efektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Misalnya; perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Ada beberapa kategori dalam ranah afektif sebagai hasil belajar; (a) Receiving/ attending/ menerima/ memperhatikan. (b) Responding/ menanggapi. (c) Valuing/ penilaian. (d) Organization/ Organisasi. (e) Characterization by a value or value complex/ karakteristik nilai atau internalisasi nilai.

Receiving/ attending/ menerima/ memperhatikan adalah semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar. Receiving juga diartikan sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek.

Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka dan mereka mempunyai kemauan menggabungkan diri ke dalam nilai itu atau mengidentifikasi diri dengan nilai itu.

Responding/ menanggapi adalah suatu sikap yang menunjukkan adanya partisipasi aktif atau kemampuan menanggapi, kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.

Valuing/ penilaian, menilai atau menghargai artinya memeberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek, sehingga apabila kegiatan itu idak dikerjakan kan memebrikan suatu penyesalan. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran peserta didik tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena baik atau buruk.

Organization/ Organisasi yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk hubungan suatu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Yang termasuk kedalam organisasi ialah konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai dan lain-lain.

Characterization by a value or value complex/ karakteristik nilai atau internalisasi nilai adalah keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam hierarki nilai.
Ciri-ciri ranah afektif :

a. Sikap
Sikap merupakan kecendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu.

b. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemhaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Minat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses pembelajaran, dengan mengetahui minat peserta didik guru dapat mengarahkan siswanya dalam pembelajaran. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang meiliki intesitas tinggi.

c. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah eevaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan yang dimiliki. Target, arah, dan intesitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif lain.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir siswa, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilh alternatif karir yang tepat bagi peserta didik.

d. Nilai
Menurut Rokeach (1968) merupakan suatu kenyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah kenyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada kenyakinan. Oleh karenannay satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi siswa untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi kontribusi positif terhadap masyarakat.

e. Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri.

Bentuk-bentuk aktivitas dalam pembelajaran matematika
Menerima: Siswa menanyakan perbandingan perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai.
Menanggapi: Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru tentang perbandingan senilai.
Menilai: Siswa melengkapi jawaban temannya yang di tampilkan di depan kelas.
Mengelola: Siswa dapat mengubah bilangan persen ke bentuk decimal
Menghayati: Siswa melengkapi catatan matematikanya serta membuat tugas yang diberikan guru.

3. Ranah Psikomotor
Ranah Psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skiil) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Adapun kategori dalam ranah psikomotor; (a) Peniruan, (b) Manipulasi, (c) Pengalamiahan, (d) Artikulasi.

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, melainkan dibuat oleh para ahli berdasarkan domain yang dibuat oleh Bloom:
a. Persepsi
b. Kesiapan
c. Respon terpimpin
d. Mekanisme
e. Respon Tampak Kompleks
f. Penyesuian
g. Penciptaan

D. Taksonomi Bloom Setelah Direvisi
Taksonomi Bloom setelah dilakukan revisi oleh Aderson dan Kratwohl (2001), terdapat perbedaan yang tidak banyak pada dimensi Kognitif. Pada Revisi Taksonomi Bloom ini, dibagi atas dua dimensi yaitu:
1. Struktur dari dimensi proses kognitif
a. Mengingat
Dapat mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama
b. Memahami
Membangun makna dari pesan-pesan instruksional, termasuk lisan, tulisan, dan grafik komunikasi, termasuk di dalamnya:
1) Interpreting (menerjemahkan)
2) Exemplifying (Mencontohkan)
3) Classifying ( Mengklasifikasikan)
4) Summarizing (Meringkas)
5) Inferring (Menyimpulkan)
6) Comparing Membandingkan)
7) Explaining (Menjelaskan)
8) Mengaplikasikan
9) Melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam suatu situasi tertentu

c. Menganalisis
Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian yang satu dengan yang lainnya.

d. Mengevaluasi
Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai atau ide atau mampu melakukan penilaian berdasarkan kriteria dan standar.

e. Membuat
Kemampuan menyusun unsur-unsur untuk membentuk suatu keseluruhan koheren atau fungsional, mereorganisasi unsur ke dalam pola atau struktur baru, termasuk didalamnya:
1) Generating (hipotesa)
2) Planning (Perencanaan) `
3) Producing ( Penghasil)

Kata Operasional dari dimensi proses taksonomi Bloom
Mengingat – Mengenali, daftar, menjelaskan, mengidentifikasi, mengambil, penamaan, mencari, menemukan

Memahami – meringkas, menyimpulkan, parafrase, mengklasifikasi, membandingkan, menjelaskan, mencontohkan

Menerapkan – Menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melaksanakan

Menganalisis – Membandingkan, mengorganisir, dekonstruksi, menghubungkan, menguraikan, menemukan, penataan, mengintegrasikan

Mengevaluasi – Memeriksa, hypothesising, mengkritisi, percobaan, penilaian, pengujian, Mendeteksi, Monitoring

Menciptakan – merancang, membangun, perencanaan, menghasilkan, menciptakan, merancang, membuat

2. Struktur dari dimensi Isi/Jenis/Pengetahuan
Jika isi adalah subjek-materi yang spesifik maka akan memerlukan banyak taksonomi karena ada materi (misalnya, satu untuk ilmu pengetahuan, satu untuk sejarah, dll). Kemudian, jika isi dianggap ada di luar siswa, maka timbul permasalahan bagaimana untuk mendapatkan isi dalam siswa. Ketika isi di dalam siswa, itu menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Transformasi ini pengetahuan diperoleh melalui proses-proses kognitif yang digunakan oleh siswa. Sehingga dibedakan atas 4 jenis pengetahuan

a. Pengetahuan faktual (Factual Knowledge)
Yaitu elemen dasar dimana siswa harus tahu akan berkenalan dengan disiplin atau memecahkan masalah di dalamnya. Termasuk di dalamnya pengetahuan terminologi dan pengetahuan tentang rincian spesifik dan unsur.

b. Pengetahuan konseptual (Conceptual Knowledge)
Yaitu hubungan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar yang memungkinkan mereka untuk berfungsi bersama-sama. Diantaranya: Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan generalisasi, Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.

c. Pengetahuan Prosedural (Procedural Knowledge)
Yaitu bagaimana melakukan sesuatu atau penyelidikan, dan kriteria untuk menggunakan keterampilan, teknik, dan metode.

Diantaranya: Pengetahuan tentang subyek-keterampilan khusus, pengetahuan subjek-teknik khusus dan metode, pengetahuan kriteria untuk menentukan ketika untuk menggunakan prosedur yang tepat.

d. Pengetahuan metakognitif (Metacognitive Knowledge)
Yaitu pengetahuan kognisi secara umum serta kesadaran dan pengetahuan tentang kognisi sendiri.

Diantaranya: Pengetahuan strategis, pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, termasuk sesuai kontekstual dan kondisi pengetahuan, Pengetahuan diri

REFERENSI :

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.
Slameto.2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Suherman, Erman. 2004. Strategi Pembelajaran Matematika. Bandung:UPI.

http://www.elfilany.com/2011/01/posisi-ranah-kognitif-dalam-taksonomi.html diakses pada tanggal 1 september

http://gurupembaharu.com/home/?p=186

http://zaifbio.wordpress.com/2009/11/15/ranah-penilaian-kognitif-afektif-dan-psikomotorik/

Oleh :
TOMI TRIDAYA PUTRA
ERLANGGA PUTRA
ESA PUTRI DINANTI
DEPIK LARASATY

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika UNP BP 2008

Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Matematika
Dosen :
Prof. Dr. Ahmad Fauzan, M.Pd., M.Sc.
Drs. H. Yarman, M.Pd.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s