Pendidikan Untuk Pendidik

Oleh : Tomi Tridaya Putra

Meski berasal dari kata dasar yang sama, tapi kata pendidikan dan pendidik memiliki makna yang berbeda namun masih dalam ruang lingkup yang sama. Pendidikan berasal dari kata didik atau mendidik yang artinya memelihara dan memberikan peletihan, pelejaran mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran, jadi pendidikan adalah proses atau perbuatan dalam mendidik. Kata pendidik mengarah kepada orang yang memberikan pendidikan, karena proses dari pendidikan dilakukan oleh pendidik, maka pendidikan tidak akan berjalan tanpa adanya pendidik dan pendidik tidak akan ada tanpa adanya pendidikan.

Berdasarkan dari makna dari kata pendidikan sendiri, yakni pendidikan adalah untuk memperbaiki kecerdasan dan tingkah laku manusia, juga sesuai dengan suatu istilah umum yang telah sering digunakan yaitu pendidikan adalah memanusiakan manusia. Ini artinya pendidikan mutlak harus dilakukan, kerena meski sudah terlahir sebagai manusia namun setiap manusia butuh pendidikan agar menjadikannya sebagai manusia yang seutuhnya, dalam artian manusia yang berbudaya, berilmu da berakhlak. Selain itu menurut Prof. Prayitno (Guru Besar Universitas Negeri Padang) pendidikan adalah memuliakan kemanusiaan. Jadi pendidikan dilakukan untuk menunjukkan fitrah manusia itu sendiri, yakni manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan makhluk yang mulia. Namun, kesempurnaan itu tidak mutlak membuat manusia menjadi mulia, namun pendidikanlah yang meningkatkan kemuliaan manusia, hal ini sesuai dengan Al-Quran yang menyatakan bahwa “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan . . . “ serta perintah Rasulullah agar manusia menuntut ilmu yang tertuang dalam beberapa hadis. Jika berbicara tentang menuntut ilmu, yakni akan bicara tentang pendidikan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendidikanlah yang akan memanusiakan manusia dan memuliakan kemanusiaan, Namun, apakah setiap pendidikan akan memanusiakan manusia dan memiliakan kemanusiaan itu ? Jawabannya jelas tergantung kepada pendidikan itu sendiri, karena setiap pendidikan situasinya tidak akan sama karena ada beberapa hal yang dapat mempengaruhinya, namun akan timbul pertanyaan selanjutnya, yaitu apa dan siapakah yang paling menentukan sukses dan tidak suksesnyna pendidikan itu ? Mungkin ada yang akan menjawab peserta didik, sistem serta fasilitas dalam pendidikan itu, namun kebanyakan dari kita akan menjawab pendidik, karena pendidik sebagai unsur yang paling menentukan dan berperan dalam pendidikan.

Jadi apa dan siapakan pendidik itu sehingga begitu berperannya mereka dalam pendidikan ? Mungkin yang pertama terlintas di pikiran kita adah guru dan dosen. Mereka adalah orang yang mengajari kita ilmu, mendidik, membimbing dan memberikan nasehat, memperingatkan jika salah, ramah dan bersahabat, selalu sabar, selalu memberikan teladan dan contoh yang baik. Mereka adalah orang yang kita hargai, hormati dan sayangi. Itukah yang dikatakan pendidik ? kita akan menjawab iya, tetapi jika ditanya apakah semua pendidik seperti itu ? kebanyakan dari kita pasti akan menjawab tidak. Jadi bagaimanakah pendidik itu yang sebenarnya ?.

Pendidik adalah orang yang melaksanakan pendidikan, yang memberikan pendidikan kepeda peserta didik, seperti yang telah disebutkan diatas, pendidik adalah orang yang memenusiakan manusia, yang memuliakan kemanusiaan. Jadi pendidik adalah orang yang memiliki tugas sangat berat, karena merekalah yang akan menentukan mulia tidaknya manusia yang berada dalam didikannya.

Itulah pendidik, mereka punya tugas dan tanggungjawab yang berat dalam mendidik, maka sudah sepantasnyalah pendidik mendapatkan pendidikan yang memadai. Pendidikan untuk pendidik bukan hanya di bidang akademik, keilmuan dan keahlian mengajar saja, namun juga bidang lain yang tidak kalah pentingnya dari akademik, keilmuan dan keahlian tersebut, namun pendidikan di bidang kepribadian, keteladanan serta nilai-nilai moral dan kemanusiaan dalam kehidupan yang notabene akan dipraktekkan dalam kehidupannya. Karena profesinya sebagai pendidik, maka mau tidak mau, sadar atau tidak pendidik akan diteladani, ditiru dan selalu dinilai serta menjadi acuan dan referensi bagi peserta didiknya. Mereka akan mencadi contoh bagaimana manusia yang seunguhnya, menjadi model manusia yang mulia, arena tugasnya adalah memanusiakan manusia, memuliakan kemanusiaan.

Seorang yang akan menjadi pendidik benar-benar harus disiapkan secra matang, dididik dan mereka benar-benar harus dimanusiakan dan dimuliakan, baru bisa mereka disebut sebagai pendidik dan siap terjun ke lapangan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Namun jika sang pendidik belum siap untuk jadi pendidik, mereka belum ‘manusia’ atau kemanusiaannya belum mulia, tidak mungkin mereka bisa memanusiakan manusia, memuliakan kemanusiaan.

Setiap tahun banyak diluluskan para pendidik dari berbagai Perguruan Tinggi, tetapi apakah semua pendidik yang telah terjun ke lapangan dan yang akan terjun telah benar-benar siap sebagai pendidik ? Mungkin di segi ilmu dan keahlian mengajar nilai mereka telah mencukupi, namun dari segi keteladanan, moral, kemanusiaan apakah sudah ada pada diri mereka ? Ini perlu jadi renungan bagi kita bersama, karena keteladanan, moral, kemanusiaan dan kemuliaan tidak ada kategori penilaiannya, tidak ada beban sks dan tidak ada mata kuliah serta tes yang harus dijalani. Namun, keabstrakan hal-hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikannya, karena walau bagimanapun Perguruan Tinggi tidak bisa hanya melahirkan ribuah pendidik tiap tahun yang hanya mampu mengajar, menjelaskan tapi tidak bisa diteladani oleh para peserta didik mereka karena mereka belum ‘manusia’, mereka belum mulia sehingga belum bisa memanusiakan manusia, dan mereka tidak akan berhasil memuliakan kemanusiaan, meski di transkrip nilai mereka mata kuliah-mat akuliah Kependidikan, keahlian, Agama, PPKn mereka A, karena hal itu tidak menjamin mereka akan berperangai baik bersifat mulia, berpakaian selalu sopan dan bisa diteladani. Meskipun pendidik juga manusia yang tidak luput dari kesalahan, namun karena profesinya sebagai pendidik telah menuntutnya agar menjadi manusia yang benar-benar ‘manusia’ dan bisa memanusiakan, manusia yang mulia dan mampu memuliakan maka mereka harus bisa meminimalisir kesalahan dan kekhilafan karena mereka pasti juga telah mempersiapakan, memikirkan hal itu sebelum mereka memutuskan untuk menjadi seorang pendidik, sehingga Perguruan Tinggi sudah leluasa memberikan pendidikan untuk para calon pendidik, mempersiapkan, memanusiakan, memuliakan kemanusiaan mereka kerena merekalah yang akan memanusiakan dan memuliakan kemanusiaan generasi penerus bangsa.

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Padang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s