Sisi Positif ‘Kemalasan’

Metrotvnews.com: Memang mengesalkan menghadapi rekan kerja yang suka bermalas-malasan. Saat orang lain sedang berlomba dengan waktu, dia tampak santai. Itulah yang dialami Rina. Rekannya, Wati, malah sempat menata rias ulang wajahnya pada jam makan siang, sedangkan untuk makan saja, Rina harus nyolong-nyolong. Huh!

Yang lebih mengherankan Rina adalah bahwa Wati bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Dia hampir tak pernah lembur, sementara kerjaan Rina rasanya tak pernah ada habisnya. Asal tahu saja, mereka berdua mendapat bagian tugas yang sama beratnya setiap hari. Lalu, apa sebenarnya rahasia ‘kemalasan’ Wati?

Sebagian dari Anda mungkin bernasib seperti Rina yang selalu merasa dikejar-kejar waktu, lainnya seperti Wati yang lebih memandang penyelesaian tugas sebagai hal yang santai. Belajar dari hukum alam sendiri, kita mendapati bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tak baik. Terlalu santai nanti disangka tak serius dan malas, kalau terlalu buru-buru juga mudah lelah sendiri. Lalu, harus bagaimana dong? Belajar dari ‘kemalasan’ Wati, ada beberapa hal yang sebenarnya bisa diteladani kita teladani.

Email itu bisa menunggu

“Ah, yang benar!” mungkin begitu sergah Anda. “Benar!” Anda tak harus menjawab email saat email itu baru masuk dalam inbox. Tentu saja hal ini tidak berlaku jika email yang ada berkaitan dengan deadline atau hidup-matinya karir Anda. Di luar itu, selama jam kerja, cukup periksa email 2-3 kali saja. Waktu lain bisa Anda gunakan untuk mengurus pekerjaan lain. Enak bukan?

Menolak tak berarti dipecat

Jika atasan atau rekan lain datang dengan membawa pekerjaan yang memang berhubungan dengan tugas utama Anda, maka terimalah itu. Namun, jika ada kerjaan tak urgen yang dilemparkan pada Anda dengan alasan ‘minta tolong’, Anda berhak untuk menolaknya. Katakan saja bahwa Anda sedang mengerjakan tugas lain yang lebih penting jadi dengan menyesal, Anda tidak bisa membantu.

Simpan kemampuan multitasking

Anda tak bisa fokus penuh jika membalas email sambil menjawab telepon. Lakukan semuanya satu per satu, jika tidak, Anda akan menghabiskan waktu lebih banyak lagi hanya untuk memeriksa ulang email yang telah Anda tulis tadi. Malah dua kali kerja kan jadinya?

Istirahatlah

Banyaknya hal yang berhasil diselesaikan dalam rentetan waktu tanpa henti justru hanya akan membuat otak dan tubuh cepat merasa lelah. Meski Anda ingin menyelesaikan semuanya sekarang, namun tubuh dan pikiran Anda juga perlu istirahat. Percayalah! Dengan mau meluangkan waktu untuk beristirahat, sekembalinya bekerja, Anda akan mendapati diri jauh lebih segar dan produktif.

Makanlah di tempat lain

Rasa bosan dan lelah akan mudah menyergap bila Anda selalu berkutat di balik meja kerja. Saat jam makan siang tiba, tinggalkan meja dan makanlah di tempat lain. Carilah suasana yang segar agar Anda bisa mengisi perut sekaligus ‘berekreasi’. Makan di lain tempat juga bisa menghindarkan Anda dari kebiasaan makan sambil bekerja. That’s s a big no no!

Waktu sendiri sangat penting!

Setelah bekerja seminggu penuh, Anda jelas membutuhkan waktu untuk mengasingkan diri dari yang namanya kerja. Saat akhir pekan atau jam kerja berakhir, manjakan diri Anda dengan berbagai hobi yang Anda suka. Pemulihan batin dari kelelahan bisa diperoleh saat Anda memiliki waktu untuk menikmati diri sendiri.

Memperlambat kecepatan bekerja bukanlah sebuah kemalasan. Ini hanyalah sebuah usaha untuk mengerjakan tugas seperti manusia normal dan bukan sebagai mesin atau robot. Jadi ‘malas’ tapi produktif yuk! (kpl/DOR)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/07/17/23534/Sisi-Positif-Kemalasan-/882

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s