HAKIKAT PENDIDIKAN

A. Hakikat Pendidikan

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perluasan, dan cara mendidik.

1. Menurut Pandangan Pakar Indonesia

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Menurut Raka Joni (1985:2) hakikat pendidikan adalah :
a. Pendidikan merupakan interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara kedaulan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
b. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubhn yang semakin pesat.
c. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
d. Pendidikan berlangsung seumur hidup.
e. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
Mudyahardjo ( 2001:91 ) menegaskan bahwa asumsi pokok pendidikan adalah :
a. Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar dab lingkungan belajarnya.
b. Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yan baik atau norma-norma yang baik.
c. Pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan bermula dari kondisi-kondisi aktual dan individu yang belajar, tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.

Menurut Bojonegoro : Mendidik adalah memeri tuntunan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangannya sampai tercapai kedewasaan

Darmaningtyas mengatakan tentang difinisi pendidikan yaitu pendidikan sebagai usaha dasar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan kemajuan yang lebih baik.

Menurut Ahmad D. Marimba Pendidikan adalah bimbingan. Pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

2. Menurut Pandangan Pakar Asing

John Dewey memaknai pendidikan sebagai proses pembaruan makna-makna pengalaman lewat transmisi insidental dan intensional. Dengan usaha demikian, pendiidkan membantu manusia merealisasikan segala kemampuan yang ada dalam dirinya untuk menjad pribadi yang mandiri. Ialah sesuatu yang penting harus pula kelihatan dalam kegunaannya. Oleh Karena itu pertanyaan what is harus dikembangkan menjadi what for dalam filsafat praktis. “Menurut John Dewey, kita harus sanggup bertindask, tidak selalu terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi, melainkan berusaha memecahkan masalah dengan tindakan konkrit,”

Prof. Lodge dalam buku “Philosophy of Education” menyatakan “Perkataan pendidikan kadang-kadang dipakai dalam pengertian yang luas dan pengertian sempit. Dalam pengertian luas pendidikan adalah semua pengalaman, dapat dikatakan juga bahwa hidup adalah pendidikan atau pendidikan adalah hidup. Pengertian pendidikan secara sempit adalah pendidikan dibatasi pada fungsi tertentu di dalam masyarakat yang terdiri atas penyerahan adat istiadat (tradisi) dengan latar belakang sosialnya, pandangan hidup masyarakat itu kepada warga masyarakat generasi berikutnya”.

Menurut Brubacher dalam bukunya “Modern Philosophies of Education, “Pendidikan diartikan sebagai proses timbal balik dari setiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman dan alam semesta. Pendidikan merupakan pula perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi manusiawi, moral, intelektual dan jasmani oleh dan untuk kepribadian individunya serta kegunaan masyarakatnya yang diarahkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan hidupnya.

Sedangkan menurut Freire hakekat pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan tekhnik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana tekhnologi lainnya yang ditawarkan seseuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka

B. Pengertian Pendidikan dan Implikasi

1. Menurut Para Ahli

Ki Hajar Dewantara (1962:14) menjelaskan bahwa “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti ( kekuatan batin, karakter),pikiran (intellect) dan tubuh anak; dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.
Beliau lebih lanjut mejelaskan bahwa pendidikan harus mengtamakan aspek-aspek berikut:
a. Segala alat, usaha dan cara pedidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan.
b. Kodratnya keadaan itu tersimpan dalam adat-istiadat setiap rakyat, yang oleh karenanya bergolong-golong merupakan kesatuan dengan sifat prikehidupan sendiri-sendiri, sifat-sifat mana terjadi dari bercampurnya semua usaha dan daya upaya untuk mencapai hidup tertib damai.
c. Adat istiadat, sebagai sifat peri kehidupan atau sifat percampuran usaha dan daya upaya akan hidup tertib damai itu tiada terluput dari pengaruh zaman dan tempat.; oleh karena itu tidak tetap senantiasa berubah.
d. Akan mengetahui garis-hidup yang tetap dari sesuatu bangsa perlulah kita mempelajari zaman yang telah lalu.
e. Pengaruh baru diperoleh karena bercampurgaulnya bangsa yang satu dengan yang lain,percampuran mana sekarang ini mudah sekali terjadi disebabkan adanya hubungan modern.Haruslah waspada dalam memilih mana yang baik untuk menambah kemuliaan hidup kita dan mana yang akan merugikan. Itulah diantara pikiran- pikiran beliau yang sangat sarat dengan nilai.

John Dewey mengemukakan konsep pendidikan progresif sebagai berikut:
a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara perorangan (indivudually learning).
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman (learning experiencing).
c. Guru memberi dorongan semangat dan motivasi bukan hanya pemerintah.
Artinya bahwa guru memberikan penjelasan tentang arah kegiatan pembelajaran yang merupakan kebutuhan siswa.
d. Guru mengajaksertakan siswa dalam berbagai aktifitas kehidupan belajar di sekolah yang mencakup pengajaran, administrasi, dan bimbingan.
e. guru memberi arahan dan bimbingan sepenuhnya agar siswa menyadari bahwa hidup itu dinamis dan mengalami perubahan yang begitu cepat.
Menurut Prof. Dr. Dedi Supriadi Pendidikan merupakan salah satu fungsi yang harus dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh keluarga dan masyarakat secara terpadu dengan berbagai institusi yang memang diadakan dengan sengaja untuk mengembangkan fungsi pendidikan

Menurut Driyarkara Pendidian adalah pemanusiaan manusia muda . pengangkatan manusia muda ke taraf insani.
Menurut Carter V. Good Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.

Menurut Godfrey Thomson Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan yang tepat didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya.

2. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

C. Pendidikan Sebagai Sistem

Tujuan sistem pendidikan nasional, manusia Indonesia diharapkan menjadi individu yang mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk secara mandiri meningkatkan taraf hidup lahir batin, dan meningkatkan perannya sebagai pribadi,pegawai/karyawan,warga masyarakat, warga negar, dan mahluk Tuhan.
Pendekatan sistem merupakan sutu cara yang memandang pendidikan secara menyeluruh dan sistemik, tidak persial atau fragmentaris. Proses Pendidikan adalah proses transformasi atau perubahan kemempuan nyata untuk meningkatkan taraf hidup nyata lahir dan batin.
Hasil pendidikan adalah lulusan yang sudah terdidik berdasarkan/mengacu kepada tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Sistem, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut Coombs ada 12 subsistem dalam pendidikan yaitu; Tujuan, Murid/Mahasiswa, Manajemen, Stuktur dan jadwal wakru, Materi, Tenaga Pengajar dan pelaksana, Alatbantu belajar, Fasilitas, Teknologi, Kendali mutu, Penelitian, Biaya pendidikan.
Sebagai sistem sosial, pendidikan merupakan system terbuka, yang oleh Katz dan Kan yang dikutip oleh Mudyaharjo (1992), dibataskan sebagai sistem yang memperoleh masukan dari lingkungan dan memberikan hasil transformasinya kepad lingkungan. Ciri-sistem terbuka dijelaskan sebagai berikut :
1. Mengambil energi atau masukan dari lingkungan.
2. Mentransformasikan enegri yang tersedia.
3. Memberikan hasil kepada lingkungan.
4. Peristiwa yang terus berlangsung.
5. Bergerak melawan proses kehancuran.
6. Bersifat selektif.
7. Keadaan statis dan keseimbangan intern.
8. Bergerak menuju peranan yang makin berdiferensiasi.
9. Menuju keadaan akhir yang berbeda dari keadaan awal yang sama.
P.H Koombs dan W.J Platt mengemukakkan 3 macam sumber masukan pendidikan yang terdiri atas :
1. Pengetahuan, nilai-nilai dan cita-cita yang terdpat dalam masyarakat.
2. SDM yang memenuhi persyaratan.
3. Hasil produksi dan penghasilan.

D. Unsur-unsur / Komponen / Faktor Pendidikan

1. Tujuan

Dalam Undang-Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggunng jawab.
Selain tujuan umum, juga ada tujuan khusus pendidikan. hal-hal yang menyebabkan terjadinya pengkhususan tujuan umum itu adalah :
a. Karakteristik anak didik.
b. Tuntutan lingkungan.
c. Perbedaan pandangan hidup.
d. Perbedaan tujuan.
e. Kemampuan pendidik.
Empat jenjang tujuan pendidikan :
a. Tujuan umum pendidikan, yakni manusia pancasila.
b. Tujuan institusional.
c. Tujuan kurikuler.
d. Tujuan instruksional kompetensi dasar.

2. Peserta Didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Raka Joni menyatakan hakikat peserta didik :
a. Bertanggungjawab atas pendidikannya sendiri seumur hidup
b. Memiliki potensi yang berbeda-beda.
c. Memerlukan pembinaan individual dan perlakuan yang manusiawi.
d. Insan yang aktif.

Parayitno (2000) menytakan bahwa hak anak adalah memperoleh pendidikan yang layak memperkembangkan segala potensi yang diberikan Allah secara optimal. Untuk itu dimungkinkan agar anak :
a. Memperoleh fasilitas, kesempatan dan pelayanan pendidikan dari orang tua dan Negara.
b. Terhindar dari pemaksan kehendak dari pihak manapun.
c. Terhindar dari hambtan.
d. Terhindar dari perlakuan yang merugikan.
e. Terhindar dri kebijkan yang merugikan dan memaksakn kehendak.

3. Pendidik

Pendidik atau di Indonesia lebih dikenal dengan pengajar, adalah tenaga kependidikan yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan dengan tugas khusus sebagai profesi pendidik. Pendidik mempunyai sebutan lain sesuai kekhususannya yaitu:
a. Guru (lihat guru)
b. Dosen (lihat dosen)
c. Konselor (lihat konselor)
d. Pamong belajar (lihat contoh SMP Terbuka)
e. widyaiswara
f. tutor
g. instruktur
h. fasilitator
i. Ustadz, dan sebutan lainnya.
Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang Penyelenggaraan Pendidikan.

Pendidik dikelompokkan menjadi dua ktegori :
a. Pendidik menurut kodrat, yakni orang tua.
b. Pendidik menurut jabatan, yaitu guru.
Unsur hububungan orang tua dengan anaknya :
a. Unsur kasih saying
b. Unsur kesadaran akan tanggungjawab.
Unsur hubungan guru dengan peserta didik.
a. Kasih saying.
b. Tanggungjawab kepad tugas.

Menurut Prayitno (2000:9), pendidik harus :
a. Memahami potensi anak.
b. Memahami kondisi anak.
c. Melakukan kegiatn dan memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi dan kondisi anak.
d. Memberikan laporan dan bertanggungjawab.
e. Bekerjasama dengan orang tua dan pohak lain.
f. Memahami dan melaksanakan perturan.
g. Menyelenggarakan pendidikan secara professional.

4. Isi Pendidikan

Berdasarkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, ditetapkan isi dan materi pendidikan yang relevan. Kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan isi pendidikan adalah :
a. Materi harus sesuai dan menunjang tercapinya tujuan.
b. Materi harus sesuai dengan karakteristik subjek didik.
Pertibangan bgi guru dalam memilih bahan / materi yang perlu diajarkan :
a. Harus sesui dan menunjang tujuan pendidikan
b. Urgensi bahan, yaitu bahan itu penting untuk diketahui.
c. Nilai praktis dan kegunaan.
d. Bahan wajib, sesuai dengan kurikulum.
e. bahan yang sumbernya sulit perlu disiapkn guru.

5. Metode Pendidikan

Metode adalah cara yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dalam menetapkan apakah suatu metode dapat digunakan atau kurang tepat ditentukan oleh beberpa faktor :
a. Tujuan yang ingin dicapai.
b. Faktor murid, disesuakan dengan keadaan peserta didik.
c. Faktor guru.

6. Alat Pendidikan

Kegiatan pendidikan berlangsung dengan menggunakan alat-alat pendidikan. Alat-alat pendidikan adalah segala sesuatu yang secara langsung membantu terwujudnya pencapaian tujuan pendidikan. Alat pendidikan dapat berupa dua hal, yaitu :
a. Bersifat tindakan, yaitu berupa upaya, siasat dalm kegiatan dengan kewibawaan yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Pemilihan alat pendidikan ini harus memperhatikan :
1) Hubungan antar guru dn murid.
2) Perbedaan sifat dan tabiat murid.
3) Gunakan alat yang preventif pada anak yang normal.
4) Hati-hati dalam menghukum.

b. Alat pendidikan yang berupa kebendaan, sebagai alat bantu yang biasa disebut sarana pengajaran. Penggunaan alat-lat ini harus mempertimbangkan faktor :
1) Tujuan yang ingin dicapai.
2) Alat yang tersedia.
3) Pendidik yang menggunakan.
4) Karakteristik nak didik.
5) Tempat menggunakannya.
Fungsi alat bantu / sarana pendidikan :
a. Merekam
b. Manipulatif
c. Stimulatif
d. Mengingatkan kembali
e. Memperagakan
f. Mengaktifkan respon murid
g. Evaluatif
h. Umpan balik.

7. Lingkungan (Konteks yang Mempengaruhi Suasana Pendidikan)

Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan dalam pendidikan ada dua hal :
a. Lingkungan Alam
Lingkungan hidup, sering disebut sebagai lingkungan, adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan.
Lawan dari lingkungan hidup adalah lingkungan buatan, yang mencakup wilayah dan komponen-komponennya yang banyak dipengaruhi oleh manusia.
b. Lingkungan Sosial
Yang temsuk lingkungan sosial adalah semua manusia yang berada diur diri seseorang yang dpat mempengaruhi diri seseorang tersebut, baik secara lngsung maupun tidak lngsung. Menurut tempat pelaksanaaan pendidikan,lingkungan dibedakn atas :
1) Keluarga
2) Sekolah
3) Masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Tim Mata Kuliah Pengantar Pendidikan. 2006. Bahan Ajar Pengantar Pendidikan. Padang : UNP Press.

http://definisi-pengertian.blogspot.com/2010/04/definisi-hakikat-pendidikan.html

http://episentrum.com/search/hakekat%20pendidikan%20menurut%20pakar%20indonesia

http://file.upi.edu/Direktori/C%20-%20FPBS/JUR.%20PEND.%20BAHASA%20ARAB/195204141980021%20-%20DUDUNG%20RAHMAT%20HIDAYAT/HAKIKAT%20PENDIDIKAN.pdf

http://organisasi.org/konsep-pendidikan-progresif-john-dewey-analisa-strategi-pembelajaran-ke-depan

http://www.zonependidikan.co.cc/2010/05/pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html

Oleh : TOMI TRIDAYA PUTRA
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika UNP BP 2008
Sebagai Tugas Mata Kuliah Pengantar Pendidikan
Dosen : Drs. Syafril, M.Pd.

10 thoughts on “HAKIKAT PENDIDIKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s