GURU DAN KEMAMPUAN INTERPERSONAL

Oleh: Tomi Tridaya Putra, S.Pd
Guru SMP Negeri 2 Basa Ampek Balai Tapan Kab. Pesisir Selatan

Profesi guru adalah salah satu profesi yang jauh berbeda dengan profesi yang lain. Guru memegang peranan strategis terutama dalam pembentukan watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai. Profesi guru bukan hanya sebagai hobi. Selain sebagai tanggungjawab dalam pelaksanaan program pengajaran di sekolah, guru juga bertanggungjawab menjalankan proses pendidikan bagi peserta didiknya.

Dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 dinyatakan bahwa guru bertugas untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tugas tersebut merupakan salah satu tugas paling strategis dan paling berat dalam menentukan masa depan bangsa.

Dalam melaksanakan tugasnya, guru berhadapan langsung dengan peserta didik dan bertanggungjawab langsung untuk membinanya. Objek pekerjaan guru merupakan manusia. Guru diibaratkan sebagai alat produksi yang mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi. Produk yang dihasilkan akan sangat bergantung kepada kualitas alat produksi dan cara pengolahannya.

Jika produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik, maka bahan setengah jadi tersebut akan menjadi berbagai barang jadi dengan kualitas baik dan nilai jual tinggi. Sementara jika bahan setengah jadi tersebut berkualitas rendah, maka bahan tersebut hanya akan menjadi barang jadi dengan kualitas rendah dan nilai jual rendah.

Guru yang diibaratkan dengan mesin produksi atau mesin pengolah harus memiliki kualitas yang baik. Untuk menciptakan manusia yang unggul, garu harus manusia yang unggul. Keunggulan guru tersebut terutama pada bidang yang berhubungan dengan tugasnya, yatu mengajar dan mendidik. Kemampuan mengajar ditandai dengan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Sementara kemampuan mendidik ditandai dengan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.

Kompetensi pedagogik dan profesional guru merupakan unsur utama dan yang selalu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas guru, namun kompetensi kepribadian dan sosil sering dilupakan. Padahal, kompetensi kepribadian dan sosial merupakan hal terpenting dalam melaksanakan proses pendidikan. Kedua kompetensi itulah yang diperlukam guru untuk membentuk watak dan karakter peserta didik.

Secara formal, kompetensi akademis seorang guru tidak bisa diragukan lagi. Guru merupakan seorang sarjana di bidang pendidikan. Itu artinya secara nyata guru telah memiliki kompetensi pedagogik dan profesional yang. Namun, kompetensi kepribadian dan sosial guru tidak ada jaminan formalnya. Padahal kedua kompetensi tersebut merupakan bagian dari kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Kompetensi kepribadian dan sosial tidak ada jaminan pada kemampuan akademik seorang guru. Kecerdasan kognitif (otak) tidak menjamin seseorang akan memiliki kompetensi kepribadian dan sosial. Sehingga untuk menjadi seorang guru, seseorang tidak hanya harus cerdas atau memiliki kemampuan kognitif yang tinggi.

Berdasarkan klasifikasi kecerdasan berdasarkan multiple intellegences (kecerdasan majemuk) menurut Howard Gardner, kecerdasan dibagi atas delapan yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan visual, kecerdasan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis. Berdasarkan klasifikasi kecerdasan tersebut, jika dibawa pada kompetensi guru, untuk kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan visual, kecerdasan spasial, kecerdasan musik dan kecerdasan naturalis merupakan kompetensi pedagogik dan profesional, sesuai dengan kajian ilmu seorang guru. Sementara kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal merupakan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial yang mutlak dimiliki oleh semua guru dalam pada kajian ilmu apapun.

kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan visual, kecerdasan spasial, kecerdasan musik dan kecerdasan naturalis tidak harus dimiliki oleh seorang guru. Guru cukup memiliki salah satu dari kecerdasan tersebut sesuai dengan bidang kajian ilmunya. Namun kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal harus dimiliki oleh semua guru pada bidang kajian apapun. Hal ini karena kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan guru dalam bersosial yang merupakan kebutuhan untuk kompetensi, pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian guru, serta kecerdasan intrapersonal untuk kebutuhan kompetensi kepribadian guru. Jadi, untuk menunjang profesionalisme guru terutama kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian guru, kemampuan interpersonal merupakan hal yang sangat dibutuhkan.

Kecerdasan interpersonal secara singkat dapat diartikan kecerdasan dalam bergaul atau people smart. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi, dan perasaan orang lain. Orang yang cerdas bergaul peka terhadap ekspresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain, serta mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok.

Orang dengan kecerdasan ini memiliki kemampuan sosial yang tinggi dan mudah berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, orang dengan kemampuan ini sanggup menempatkan diri dan membaca situasi orang-orang disekitarnya. Dia bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Jadi, apa hubungan kecerdasan interpersonal dengan profesi guru?. Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan sebelumnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa profesi sebagai seorang guru sangat erat kaitannya dengan kecerdasan interpersonal. Guru adalah profesi yang objek kerjanya adalah manusia atau proses sosial, sementara kecerdasan interpersonal adalah kemampuan seseorang untuk mengelola proses sosial. Jadi pada prinsipnya kecerdasan interpersonal inilah yang digunakan oleh guru dalam melakukan pekerjaannya, bukan hanya kecerdasan keilmuan secara pedagogik saja.

Seorang guru harus mempunyai kecerdasan interpersonal untuk memahami siswa-siswinya. Hal ini sebab pada perkembangannya, guru bukan lagi sebagai instruktur atau orang serbatahu, melainkan sebagai mitra yang dapat membimbing dan mengarahkan siswa. Kecerdasan interpersonal yang harus dimiliki seorang guru meliputi kemampuan berkomunikasi, baik secara verbal maupun non verbal, kemampuan mendengarkan dan kemampuan bertanya, sikap dan tingkah laku, kemampuan mengatasi masalah dan kharismaabila seorang guru ingin menjadi guru yang berkesan bagi para siswa, salah satu kecerdasan interpersonal yang harus dimiliki guru adalah kemampuan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi bukan hanya sekedar pandai bicara atau berapa banyak hal yang dibicarakan, namun pembicaraan tersebut harus menyejukkan dan mencerahkan. Isi pembicaraan harus bermanfaat dan terjalin dalam suasana yang menyenangkan. Komunikasi yang perlu diperhatikan bukan hanya komunikasi verbal (berbicara) tetapi juga komunikasi nonverbal (bahasa tubuh). Guru haru menguasai cara berkomunikasi yang banar-benar menyejukkan dan menyenangkan bagi siswanya.

Kedua kemampuan mendengarkan. Kemampuan mendengarkan seiring dengan kemampuan komunikasi. Dengan mendengar, kita dapat memahami orang lain serta dapat mempengaruhi. Dengan mendengar, akan terjalin hubungan yang baik. Seorang guru harus menjadi pendengar yang baik. Dengan mendengar setiap hal dan keluhan siswa, guru akan mengetahui permasalahan yang dihadapi siswa sehingga dapat dicarikan solusi dari permasalahan tersebut.

Ketiga kemampuan bertanya. Kemampuan bertanya merupakan salah satu kemampuan interpersonal guru agar suasana kelas menjadi lebih hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru dapat membangkitkan minat dan meransang otak agar siswa mau berpikir dan mencari kaitan-kaitan pengetahuan sehingga mampu menjawab pertanyaan. Seorang guru harus memiliki kemampuan bertanya dengan pertanyaan secara tepat, waktu yang tepat, memilih tempat bertanya yang tepat serta menyampaikan pertanyaan dengan baik.

Keempat sikap dan tingkah laku. Saat ini, sikap dan perilaku guru tidak lagi diharuskan menjadi seorang yang selalu berwibawa di depan para siswanya dan cenderung menjaga jarak. Guru tidak dibenarkan memposisikan dirinya pada kedudukan lebih tinggi dari siswa. Hal ini karena meskipun demikian proses pendidikan juga tidak akan berhasil tanpa adanya pembiasaan tingkah laku yang baik seorang guru. Bukan kewibawaan yang membuat siswa menghormati dan mematuhi guru, namun perilaku yang baik yang dapat dijadikan contohlah yang aka membuat guru menjadi istimewa di depan siswanya.

Kelima kemampuan mengatasi masalah. Karena guru berperan sebagai pembimbing, maka guru juga bertugas membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi siswa. Dalam menyelesaikan masalah, seorang guru harus mampu menawarkan solusi-solusi serta mengambil keputusan secara bijaksana dalam menyelesaikan sesuatu permasalahan.

Keenam karisma guru. Seorang guru harus memiliki karisma yang memperlihatkan kemampuan memimpin yang dapat memangkitkan rasa kagum orang lain. Seorang guru harus terlihat berkarisma di mata siswanya agar siswa dapat menjadikan guru tersebut sebagai panutan dan contoh dalam berperilaku.

2 thoughts on “GURU DAN KEMAMPUAN INTERPERSONAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s